Proses Belajar pada Anak

Proses utama belajar adalah tidak bisa menjadi bisa, tidak tahu menjadi tahu… jangan membatasi proses belajar sebatas kegiatan yang berhubungan dengan baca tulis

Catatan lama kelas parenting yang dibuang sayang. Singkat tapi mudah-mudahan ada hal yang menambah pengetahuan kita sebagai orangtua. Pertemuan ini diisi oleh psikolog tetap sekolah, tapi karena bersumber dari catatan point dan uraian singkat yang saya tangkap (bukan modul pemateri), saya sangat terbuka kalau ada koreksi. Bahasannya kali ini adalah proses belajar pada anak.

Pertama-tama, proses belajar sendiri dapat  diuraikan sebagai berikut :

Informasi  –> ditangkap oleh proses indrawi  –> oleh otak diproses dan disimpan –> diekspresikan –> perilaku problem solving

Proses utama belajar adalah tidak bisa menjadi bisa, tidak tahu menjadi tahu… jangan membatasi proses belajar sebatas kegiatan yang berhubungan dengan baca tulis. Proses belajar harus mampu  memanfaatkan modal belajar anak yaitu aspek fisik dan aspek psikologis.

Ketika terjadi hambatan belajar, maka kita harus kembali mengenali cara belajar anak, apakah audio, visual, atau kinestetik.

Sebelum memasuki jenjang sekolah formal, beberapa sekolah melakukan tes kematangan pada anak. Tes ini biasanya maksimal dilakukan pada usia 7 sampai 8 tahun. Seharusnya usia kronologis sesuai dengan usia kalender (ketidaksesuaian usia kronologis dan usia kalender juga bisa terjadi pada orang dewasa… mungkin yang disebut : bertambah tua itu pasti, menjadi dewasa adalah pilihan..:)). Usia kematangan ini tidak bisa dipotong. Seorang anak bisa saja mempercepat studinya dengan akselerasi, namun usia kematangan anak tidak bisa dipotong. Tes kematangan saat masuk sekolah bukanlah tes baca tulis. Saya yang pernah memperhatikan tes ini dilakukan pada anak saya, merasa tes ini lebih pada  pengukuran seberapa mampu anak mengendalikan emosi, mendengarkan dan bereaksi terhadap penyampaian infomasi, mengungkapkan pikiran, dan ketuntasan dalam melakukan tugas-tugas sederhana.

Selain itu sekolah pada tingkat selanjutnya melakukan psikotest. Tujuan utamanya tentu bukan untuk berbangga-bangga nilai IQ. Namun informasi ini digunakan guru untuk menetapkan metode belajar di kelas. Misalnya hasil psikotest di sebuah kelas; 10% rata-rata, 60% diatas rata-rata, 30% superior. Maka seharusnya pembelajaran kelas dapat dilakukan dengan metode regular bahkan flash (cepat).

Tidak optimalnya proses belajar bisa jadi karena proses belajar yang kurang tepat, atau emosi anak yang belum matang. Kematangan juga menjadi indicator kemandirian. Bukan hanya bisa melakukan sendiri tugas yang harus dikuasai pada usianya, tapi juga kematangan emosi. Salah satu ciri ketidakmatangan emosi adalah sikap pundung (sensitive, gampang marah). (wah, ini sih juga bisa terjadi pada orang dewasa).

Proses Belajar Menulis

Pertama adalah cara memegang pensil. Cara memegang yang salah akan membuat anak kesulitan dan mudah lelah saat menulis. Jarak ke mata pensil jangan terlalu dekat ataupun terlalu jauh. Untuk anak yang belajar menulis, pensil 3 sisi (pensil segitiga) akan lebih baik. Apabila anak malas menulis atau pekerjaan menulisnya sering tidak tuntas, lakukan :

  1. Cek pegangan pensilnya
  2. Cek sikap tubuh. Upayakan tegak dengan ditopang bantalan lengan.
  3. Latih pergelangan dan jari tangan (motorik halus) dengan bermain plastisin atau makan dengan tangan.

Salah satu latihan yang dianjurkan adalah belajar mandi sendiri dengan sabun batangan. Saat anak berusaha menyabuni kaki dan punggung adalah terapi tulang punggung yang baik dan melatih kelenturan tubuh. Sabun batangan melatihnya menggenggam. Mandi sendiri juga baik untuk merasakan dan menyadari tubuhnya. Hal ini berdampak pada gerakan tubuh anak yang gampang menubruk benda disekitarnya saat berjalan. Kelenturan badan penting agar anak dapat duduk tenang dan menunjang konsentrasinya.

Toleransi konsentrasi : usia anak + 1 menit

Apabila kapasitas baik, atensi kurang, maka informasi akan lewat begitu saja..

Simulasi mengecek konsentrasi : Beri aktivitas, seperti bermain lego atau mewarnai. Perhatikan ia mampu berapa lama bertahan melakukan aktivitas tersebut.

Salah satu penyebab kurangnya konsentrasi pada anak adalah adanya bagian di bawah otak yang kurang berkembang karena adanya fase pertumbuhan yang terlewat, misalnya merangkak. Terapi yang dilakukan untuk anak yang tidak merangkak diantaranya aktivitas outbond rutin, atau spider web, dimana anak melatih punggungnya.

Body image yang kurang pada anak juga membuatnya tidak berani tampil. Sekali lagi body awareness ini dapat dilatih dengan mandi, dimana ia merasakan tubuhnya. Lebih jauh lagi ia dapat diajari mana bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh dipegang orang lain.

Sharing beberapa kasus

Pada beberapa anak yang over protect, anak-anak tersebut kurang pengalaman. Bila anak punya riwayat kesehatan yang kurang baik, sebaiknya tetap beri kesempatan ia bereksplorasi. Kecemasan orang tua juga perlu diatur, karena kecemasan itu menular, dan itu akan membatasi gerak anak.

Membiasakan anak mengambil makanannya sendiri sangat baik bukan hanya untuk kemandiriannya, tapi juga anak belajar menakar makanan. Menakar dan mengira-ngira sesuai kebutuhannya. Terlalu sedikit, terlalu banyak, lama-lama ia belajar mengetahui kebutuhannya.

Beberapa orang tua mengeluhkan ; Attention Deficiency. Dimana anak ceroboh, sulit diatur, sering melamun, gagal mengerjakan tugas, pelupa, sering kehilangan barang; Hiperaktif, dimana anak terus bergerak tidak memperdulikan lokasi, bicara berlebih, celetak celetuk, labil, moody; dan Impulsivitas, dimana anak langsung menjawab sebelum pertanyaan selesai, sulit menunggu giliran, senang memotong pembicaraan, gemar mengganggu, terkesan pemberang.

Semua hal diatas dapat dilatih dengan terapi. Jadikan terapi jadi bagian dalam hidup sehari-hari. Lakukan pemeriksaan dengan memperhatikan perilaku anak secara komprehensif, lakukan dialog apabila anak sudah dapat diajak berdialog. Latihan yang bisa dilakukan misalnya membiasakan ketuntasan tugas, melakukan tugas kemandirian di usianya, dan belajar focus misalnya saat bermain satu permainan.

Orangtua yang meributkan nilai IQ perlu pula menyadari, nilai IQ ada yang bersifat potensi (original), namun ada pula yang actual. Walaupun kegiatan stimulasi IQ terdapat pro dan kontra, namun perkembangan pesat IQ memang terjadi pada masa golden age yaitu 80%, sementara sisanya 20% yang bisa distimulasi kemudian. Yang perlu diingat, nilai IQ bukanlah segalanya, karena kita mengakui keberadaan multiple intelegences.

Sekian sedikit catatan lama…semoga bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s