Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak

ayah edi

Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak; Ayah Edi, Noura Books (PT Mizan Publika) : 2014

Foto diambil dari : mizanstore.com

Setiap anak lahir dengan membawa bibit unggul masing-masing. Anak yang memiliki bibit dokter bila dirawat dengan tepat, kelak ia akan tumbuh menjadi “pohon dokter”. Begitu juga dengan anak yang menyimpan bibit penyanyi, jika dibesarkan dengan baik, kelak ia akan menjadi “pohon penyanyi”.

Masalahnya, anak tidak lahir dengan stempel di dahinya: “bibit insinyur”, “bibit ballerina”, “bibit pianis”, atau “bibit arsitek”. Namun jangan khawatir, mereka lahir dengan petunjuk-petunjuk yang bisa kita “baca”. Orangtualah yang harus pandai mengenali petunjuk ini.

Kelak Ayah dan Bunda bisa berkata kepada anak-anak tercinta,”Jadilah, tumbuhlah sebagai pohonmu sendiri, Nak.”

“Mengapa Negara ini rapuh? Karena banyak pohon beringin ingin jadi pohon jeruk, dan pohon jeruk ingin jadi pohon mangga.” – Gede Prana

“Minat dan bakat yang dimiliki setiap anak adalah persembahan Tuhan bagi kita. Bagaimana setiap orangtua mampu dan berani mewujudkan minat dan bakatnya adalah persembahan kita kepada Tuhan.” – Ayah Edi

MINAT

Minat artinya kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Dalam bahasa Inggris dikenal “passion”. Passion adalah minat yang disertai keinginan yang kuat. Minat bisa lahir dari dalam, maupun dari luar

Minat yang tumbuh dari dalam biasanya tak bisa dijelaskan, “Kenapa ya? Pokoknya suka aja”. Minat bawaan lahir inilah yang seharusnya kita cari pada anak kita. Minat karena pengaruh lingkungan, misalnya ingin jadi pemain bola karena Ayahnya penggemar bola. Minat ini sebaiknya kita pisahkan, karena ini bukan bibit orisinal anak.

BAKAT

Bakat adalah potensi bawaan lahir. Karena bawaan lahir, tidak ada bakat yang merupakan hasil bentukan. Setelah ditempa, barulah ia bersinar. Filosofinya, bila anak kita ditakdirkan menjadi bibit mangga, jangan biarkan ia tumbuh menjadi pohon jeruk hanya karena jeruk sedang laris. Sayangnya, di Indonesia, kita sering mengecilkan beberapa jenis bakat, yang diagungkan biasanya bakat di bidang matematika, fisika, atau kimia.

MINAT DAN BAKAT JUGA DUA HAL YANG BERBEDA

Bisa jadi anak berminat terhadap sesuatu , tetapi sebenarnya ia tak berbakat di sana. Minat adalah urusan hati. Perasaan hanyalah alat ukur minat. Sedangkan bakat berhubungan dengan hasil. Anak yang berbakat basket, ketika diajari basket maka hasilnya akan signifikan.

POTENSI UNGGUL

Banyak anak sekarang yang punya bakat lebih dari satu. Potensi unggul adalah potensi yang terbaik diantara semua potensi yang ia miliki.

“ Kita mungkin tak bisa mempersiapkan masa depan bagi anak-anak kita. Namun setidaknya, kita bisa menyiapkan anak-anak untuk menghadapi masa depannya kelak.” – Franklin D. Roosevelt

Kasus : Anak yang sudah kuliah tingkat akhir hingga terancam drop out, menolak melanjutkan kuliahnya, merasa tidak cocok kuliah di fakultas tersebut, tidak suka, tidak mau bekerja di bidang itu, bahkan menolak bertahan sebentar lagi hingga meraih gelar sarjana.

Ia mungkin telah tersiksa selama ratusan jam dalam kelas-kelas yang tidak diminati, dan diakhir menjelang kelulusan kesadaran menghentaknya. Jangan-jangan telah lama ia memendam rasa tidak suka itu. Namun, ia sungkan memberi tahu orangtuanya. Takut melihat reaksi mereka. Atau ia tidak tahu bidang apa yang ia minati, tak tahu cita-citanya.

Kita sering melihat anak yang disuruh belajar terus, sejak SD hingga SMA. Ia dituntut memperoleh nilai baik dalam semua mata pelajaran. Walaupun nilai bahasa Indonesianya delapan, jika matematikanya lima ia terancam tidak naik kelas.

Menjelang kuliah, saat menentukan universitas dan jurusan apa yang akan dipilih, mereka kebingungan. Ia tak tahu cita-citanya, ia juga tak tahu bidang apa yang ia minati. Karena selama ini ia hanya menjalankan perintah kurikulum sekolah dan orangtuanya. Ia kemudian akan memilih jurusan seperti teman se-gengnya, atau menuruti orangtua yang memilihkan jurusan favorit yang begitu lulus gampang mencari kerja, punya gaji tinggi.

TANPA PEMETAAN, SEKOLAH ADALAH EXPENSES

TANPA PEMETAAN, LAHIRLAH PEKERJA UNHAPPY (I DON’T LIKE MONDAY = I DON’T LIKE MY JOB)

TANPA PEMETAAN, PASAR BEBAS ADALAH ANCAMAN

LIMA LANGKAH PEMETAAN POTENSI :

LANGKAH 1 : MENYUSUN PROGRAM SIMULASI

Langkah pertama bantulah anak menemukan aktivitas yang disukainya. Kita perlu memberikan sebanyak-banyaknya simulasi, dengan memperkenalkan sebanyak-banyaknya aktivitas dan profesi yang ada di dunia ini. Perkenalkan anak-anak dengan tokoh-tokoh dunia dari berbagai bidang yang berbeda. Mengajak anak ke pameran-pameran atau museum. Dengan pengenalan ini lambat laun minat anak akan mengerucut pada satu bidang profesi tertentu. Tapi tentu kita tak bisa buru-buru mengambil kesimpulan, beri waktu anak untuk mendapatkan simulasi berbeda dan mengembangkan ketertarikannya.

Usia berapa kita dapat melihat anak mulai membentuk minat khusus dan potensi unggulnya? Dari pengalaman ayah Edy, ternyata tiap anak-anak berbeda. Ada yang usia lima, tujuh, atau empat belas tahun.

Masih menurut Ayah Edy, anak-anak yang orangtuanya lebih demokratis dan aktif berdialog dengan anak biasanya lebih cepat menemukan potensi unggulnya, dikarenakan anak bebas memilih tanpa tekanan. Selain itu, jenis kelamin sama sekali tidak menentukan jenis profesi yang dipilih anak.

Ada pengalaman Ayah Edy yang menarik saat ia berada di sebuah TK di salah satu negara maju. Saat guru bertanya kepada anak-anak kala mereka besar, anak-anak dengan antusias menjawab dengan versi masing-masing. Namun yang menarik, sang guru selalu mengatakan, “ Wow, that’s great! Excellent!” kepada semua anak. Tidak hanya pada anak yang ingin berprofesi sebagai dokter, tapi juga pada yang ingin menjadi tukang sampah dan supir truk.

Sebagai orang Indonesia saya benar-benar terkejut, dan sempat bertanya pada sang guru, mengapa ia membiarkan anak-anak bercita-cita menjadi tukang sampah. Namun, kini giliran sang guru yang terkejut. Lalu ia bertanya, “Where are you from?”.

Ia menjelaskan, profesi apapun apabila dikerjakan dengan sepenuh hati, akan menjadi mulia dan berguna bagi semua orang. Bukan masalah bidang profesinya, tetapi apakah ia mampu menjadi yang TERBAIK di bidang profesi tersebut. Guru itu bertanya, “Tahukah kamu mengapa negeri ini menjadi bersih dan tidak ada sampah berserakan padahal setiap rumah menghasilkan sampah setiap hari? Tahukan kamu bahwa salah satu orang terkaya di kota ini adalah tukang sampah yang mengelola sistem pembuangan sampah di kota ini?”.

LANGKAH II : MEMBUAT DAFTAR MINAT DAN BAKAT

Stimulasi sampai henti sampai anak berusia 12 atau 13. Kemudian buatlah daftar minat dan bakat anak. Metode ini dinamakan Ayah Edy sebagai ayakan pasir. Berilah skor pada daftar. Biasanya anak akan bingung memilih salah satu atau bahkan menjawab tidak tahu. Minta mereka menyebutkan apapun yang terpikir oleh mereka, semakin banyak semakin baik. Contoh :

NO

BIDANG YANG DIMINATI

SKOR MINAT

SKOR BAKAT

SKOR KONSISTENSI

1

Melukis

10

   

2

Bahasa Inggris

8

   

dst

….

     

 

Kemudian ambil 3 bidang yang paling diminati dengan skor tertinggi. Setelah minat terbesar ditemukan lakukan trial atau uji bakat.

LANGKAH III : UJI COBA MINAT DAN BAKAT ANAK

Jika anak sudah tertarik pada satu bidang aktivitas, tawarkan anak untuk menguji apakah ia memiliki bakat di bidang tersebut. Uji bakat bukan hanya melihat potensi anak, tetapi juga melihat konsistensi anak. Berapa lama uji bakat dilakukan? Idealnya tiga bulan sampai satu tahun. Rata-rata setelah tiga bulan adalah periode yang membosankan bagi seorang anak untuk menekuni satu bidang bila bakatnya bukan di sana. Biasanya, ada saja alasannya bila berangkat kursus.. Padahal anak yang benar-benar berpotensi dalam bidang X takkan jenuh mengerjakan X. Capek mungkin saja, tapi jenuh tidak. Jika anak baru berlatih suatu bidang selama tiga atau empat bulan lalu merasa bosan dan malas-malasan, ya tidak apa-apa, jangan dimarahi, apalagi dipaksa. Itu adalah parameter bahwa bidang tersebut bukanlah bakatnya.

Setelah anak menjalani uji bakat, Ayah Bunda dapat mengisi kolom bakat serta kolom konsistensi dalam tabel minat terbesarnya. Dari mana nilai setiap kolom kita dapatkan? Bergantung pada perasaan anak. Nilai konsistensi adalah tugas ayah bunda, dengan memperhatikan kursus mana yang ia jalani dengan gembira, tanpa protes dan tidak pernah terlihat bosan? Sedangkan nilai bakat ditentukan oleh guru/pelatihnya karena mereka lebih ahli.

NO

BIDANG YANG DIMINATI

SKOR MINAT

SKOR BAKAT

SKOR KONSISTENSI

1

Melukis

10

9

8

2

Bahasa Inggris

8

7

6

dst

….

     

 

Dalam metode ini perlu diperhatikan Apakah minat berasal dari dirinya atau pengaruh luar? Apakah anak berbakat dalam bidang yang diminatinya? Apakah anak konsisten dalam menjalani bidang yang diminatinya? Wapadai pula “tren sesaat”, terutama pada remaja.

Satu ayakan yang tidak boleh dilupakan yaitu prospek finansial. Mana yang bila dikerjakan paling bisa menghasilkan uang? Kenapa kita hrus mempertimbangkan prospek finansial? Karena bila yang “satu” itu sudah tercukupi, kita bisa melakukan apa pun yang kita minati.

Lakukan uji bakat pada minat dengan skor tertinggi. Bidang apa yang tak bosan-bosannya ia kerjakan? Setelah ia menjalankan latihan intensif, amati dalam bidang mana ia paling menonjol? Dimana kemampuannya paling bersinar? Bidang apa yang paling cepat dikuasainya? Bidang apa yang menjadi kombinasi sempurna antara minat dan bakatnya? Gotcha! Itulah potensi sesungguhnya.

LANGKAH IV : PENAJAMAN PROFESI

Mengapa penajaman profesi sangat penting? Karena seseorang yang memiliki spesialisasi bernilai lebih tinggi daripada yang tidak. Contohnya dokter umum dengan dokter spesialis, lalu dokter spesialis dengan dokter sub spesialis. Singkatnya lakukan step by step berikut, dengan contoh misalnya profesi penari :

Step 1 : Mengerucutkan, ia mau jadi : penari, koreografer, pelatih, manajer produksi, atau apa?

Step 2 : Menentukan apakah ia akan jadi solois atau grup? Tentukan brand atau keunikannya?

Step 3 : Dalam profesi yang telah ditentukan dan dikerucutkan, ia ingin seperti siapa? Mintalah ia membaca biografinya dan mengikuti langkah-langkahnya.

Step 4 : Menentukan langkah-langkah pencapaian cita-citanya. Untuk meraih cita-citanya yang spesifik itu apa saja.

LANGKAH V : MAKE A LIFE PLAN

Life Plan bagaikan peta yang akan membimbing anak untuk sampai di tujuannya. Tahun berapa ia ingin meraih cita-citanya itu? Pada usia berapa? Berdasarkan pengalaman orang-orang yang berprofesi di bidang itu, berapa pendapatan mereka?

Identifikasi kebutuhan : Untuk mewujudkan cita-citanya, ia harus bersekolah dimana? Jurusan apa? Kursus apa yang harus diambil? Kompetisi apa yang sebaiknya ia ikuti?

Ketika anak memiliki life plan, hidupnya akan terfokus kesana. Jika anak fokus pada tujuan dan impiannya, ia akan jauh dari penyimpangan perilaku, narkoba, seks bebas, dan hal-hal mengerikan lainnya.

Dengan stimulasi yang rutin dan kuat , langkah-langkah pemetaan selanjutnya biasanya akan mengalir lancer dan pada akhirnya anak bisa membuat peta tujuan hidupnya sendiri.

REVIEW TARGET PENCAPAIAN – lakukan review berkala , apakah perlu disesuaikan atau dipercepat.

MUNGKINKAH ANAK PINDAH JALUR – mungkin saja terjadi, hal ini mungkin disebabkan oleh :

  • Proses simulasi (pengenalan profesi) terlalu singkat dan kurang variatif, sehingga anak tidak memiliki variasi pilihan karir yang cukup
  • Proses uji coba terlalu singkat/ belum cukup waktunya
  • Adanya tekanan orangtua terhadap anak dalam memilih profesi impiannya
  • Adanya pengaruh kuat dari orang-orang tertentu. Misalnya sahabat dekat atau pacar.

Untuk mencegah anak-anak berpindah jalur di tengah jalan, perhatikan factor-faktor diatas. Namun bila semua telah diperhatikan dan hal ini tetap terjadi, kita perlu menyikapinya dengan positif. Mungkin ada suatu proses pembelajaran hidup yang Tuhan inginkan untuk kita lalui dan kita ambil hikmahnya.

Nah, demikian resensi yang disarikan dari buku ini. Buku ini saya rasa harus dibaca oleh setiap orangtua, dan penting sekali dibaca oleh orangtua yang menganggap anaknya kurang berbakat atau kurang berprestasi secara akademik. Dan…membaca resensi ini tidak cukup tentunya, karena di bukunya anda akan menemukan banyak contoh-contoh kasus. Satu hal lain yang tak kalah menarik, pada beberapa kasus, ada orangtua yang akhirnya memutuskan untuk mengambil program home schooling untuk mendukung pencapaian prestasi anak. Last but not least, terimakasih banyak untuk Ainka atas pinjaman bukunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s