Serba Serbi Nama

Islam menerangkan dengan jelas bahwa nama adalah doa dan harapan orangtua terhadap anaknya. Karena itu bahkan ada larangan memberi nama yang buruk pada anak. Secara adat istiadat, pemberian nama di beberapa daerah diikuti dengan pembuatan bubur merah dan bubur putih. Saat anak kecil sakit-sakitanpun orang zaman dahulu banyak mengaitkan dengan “keberatan nama” yang artinya nama si anak punya arti yang tidak sesuai dengan kekuatan karakter anak sehingga si anak menjadi sakit.
Ada kisah ganti nama yang terjadi di daerah tempat saya tinggal. Seorang anak dikenal sebagai anak nakal, pembuat onar, dan sering berkelahi. Setelah itu nama sang anak diganti sesuai saran banyak orang. Ajaibnya, setelah itu si anak menjadi lebih kalem dan tidak lagi menjadi biang onar. Kalau saya perhatikan sih, sebenarnya itu lebih karena faktor fisiologis mengingat anak itu memang sudah beranjak besar, bahkan mungkin memasuki fase akil baligh, jadi sudah punya malu. Tapi ya, banyak orang tetap percaya hal itu terjadi karena ganti nama.
Yang pasti gonta-ganti nama merepotkan karena pengurusan administrasi. Tahu sendiri susah dan ribetnya bikin akte kelahiran hingga kartu keluarga. Mending kalau ganti namanya cuma sekali, kalau sampai berkali-kali karena misalnya anak tetap sakit-sakitan atau tetap jadi biang onar, wah kalau ganti nama melulu..cape deh.
Nama juga seringkali menjadi bahan bercanda, terutama untuk kalangan anak-anak. Ada seorang teman anak saya yang namanya Budi. Karena di TV dikenal komedian bernama Budi Anduk yang sedang naik daun, anak itupun terkena imbasnya. Ia seringkali dipanggil Budi Anduk. Entah karena kesal atau apa, saat anak-anak lain memanggilnya Budi Anduk, ia membalas memanggil nama teman-temannya dengan diakhiri kata “gayung”, “sabun”, bahkan “sikat”. Saya yang mendengar mereka kontan tak bisa menahan tawa, mendengar nama-nama yang bercampur nama alat-alat kamar mandi. Hahaha, ada-ada saja.
Anak saya yang baru duduk di kelas satu pernah bercerita bahwa di kelasnya ada murid lain yang bernama sama. Karena anak saya berbadan besar dan temannya itu berbadan kecil, teman-temannya memanggil dengan tambahan “besar” dan “kecil” di akhir nama. Rupanya ibu temannya ini keberatan dengan nama panggilan tersebut, dan akhirnya mengusulkan nama panggilan lain yang diberitahukan lewat ibu guru. Lucunya, suatu hari saat santai, anak saya itu berbicara pada saya dengan nada serius. Katanya, “Gimana kalau semua orang sedunia namanya sama? Pasti susah sekali memanggilnya. Terus kalau namanya dipanggil disuruh cukur rambut, berarti semuanya akan cukur rambut ya”. Saya jadi tersenyum dibuatnya.
Sewaktu anak saya itu masih di TK, ia juga pernah protes kenapa tidak diberi nama yang keren seperti superhero. Bahkan di lembar kerja siswa ia sering menulis nama “spiderman” di kolom nama. Untungnya ibu guru memaklumi dan bertahap memberikan penjelasan. Ah, serba-serbi nama, ada-ada saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s