Semangkuk Bubur untuk Ibu

Ibu saya punya tempat membeli bubur favorit. Menurut beliau belum ada bubur manapun yang enaknya menyamai bubur tersebut. Bubur itu memang bubur spesial, porsinya besar, kental, komplit dengan kue odading, suiran ayam, dan ati ampela. Tapi menurut saya, sekarang sudah banyak bubur yang enak. Apalagi di kota Bandung tempat ibu tinggal, makanan enak tersebar dimana-mana mengingat Bandung memiliki banyak pusat jajanan kuliner.

Lokasi penjualan bubur favorit ibu itu cukup jauh dari tempat tinggal ibu, sekitar setengah jam perjalanan dengan mobil pribadi. Tepatnya di depan bekas bioskop Palaguna yang pernah menjadi bioskop paling terkenal di Bandung. Antriannya cukup panjang, lewat sedikit dari jam delapan pagi, bubur biasanya sudah habis. Para pembeli duduk di bangku plastik tanpa sandaran dan tanpa meja. Kalau kurang beruntung dan tidak mendapat bangku, para pembeli duduk di pinggiran bangunan bekas bioskop. Terus terang saya agak malas kalau diajak ke sana. Bukan karena tidak suka makan di pinggir jalan, tapi kondisi makannya itu loh, darurat sekali kalau menurut saya. Tanpa meja, bingung menaruh mangkok bubur, mangkok kerupuk, dan air minum. Belum lagi membawa anak-anak, rasanya kok repot sekali.

Suatu pagi saat saya ber-week end di rumah orangtua, ibu dengan bersemangat mengajak saya makan bubur di Palaguna. Sekitar jam enam pagi; saya, ayah, ibu, dan putra balita saya berangkat. Sepanjang jalan dari rumah ibu di kawasan Bandung Utara menuju Palaguna, banyak tempat kami lewati. Mulai dari sekolah adik di jalan Setiabudhi, ibu bercerita tentang masa-masa sekolah kami anak-anaknya. Saat mobil melaju melintasi Bandung Indah Plaza—mal pertama di Bandung, ibu mengingatkan kebiasaan keluarga kami saat anak-anak masih remaja, belanja bulanan sebulan sekali di Yogya, walaupun dengan anggaran terbatas, yang penting bisa bawa anak-anak jalan-jalan. Melintasi kantor walikota, kamipun mengenang memori bermain di taman kota. Saat tiba di Jalan Braga, ibu menunjuk sebuah toko. Kata Ibu, dahulu ini adalah toko motor Vespa. Tahun 1960 ayah dibelikan oleh nenek sebuah motor Vespa terbaru seharga enam ratus ribu rupiah. Tak lama kemudian, Masjid Agung Bandung terlihat. Ibu mengingatkan bahwa saya, adik dan kakak pernah berfoto di depan masjid agung menggunakan baju yang sama, di dalam pot bunga yang ukurannya besar sekali sampai kami semua bisa berdiri di dalamnya.

Setelah menempuh sekitar setengah jam perjalanan, tibalah kami di depan Palaguna. Tak lupa sebelum turun, ibu sempat bercerita pengalamannya menonton di bioskop Palaguna bersama ayah. Kemudian buburpun dipesan dan kami menunggu cukup lama. Bahkan sampai antri kursi. Ayah dan Ibu tidak memesan bubur spesial, melainkan porsi biasa tanpa ati ampela. Saya berpikir, kenapa tidak memesan yang spesial? Bukankah perjalanan kami cukup jauh menuju ke tempat ini? Setelah pesanan bubur datang, kamipun kemudian makan dengan nikmat. Ayah terus bercanda dengan ibu sepanjang acara makan bubur itu. Sepertinya hanya saya saja yang kerepotan dan berharap keberadaan meja.

Ketika perjalanan pulang, ibu masih banyak bercerita. Wajahnya terlihat sangat menikmati perjalanan. Melewati stasiun kereta api, sekolah SMAnya dahulu, kawasan pasar sukajadi, ibu tetap semangat bercerita. Ibu bahkan baru berhenti bercerita saat kendaraan kami tiba di garasi.

Tiba-tiba saya tersadar. Bagi Ibu perjalanan ini bukan sekedar membeli semangkuk bubur. Bagi ibu perjalanan menuju Palaguna ibarat putaran ulang kehidupannya. Hampir semua kenangan perjalanan adalah kenangan bahagia dirinya, orangtua, suami, dan anak-anaknya yang kini telah besar dan berada di luar kota. Bagi ibu bubur itu bukanlah bubur biasa. Ibu tidak hanya membeli semangkuk bubur, tapi juga semua kenangannya. Ibu dan ayah adalah pasangan romantis yang bahkan masih sering bergandengan tangan. Bubur Palaguna itu adalah bubur favorit keduanya. Bubur itu seperti menjadi salah satu lambang keteguhan keduanya melewati berbagai cobaan bersama. Lambang keteguhan membesarkan empat anak dan sebuah kehangatan keluarga. Maafkan saya ya bu, begitu sulit untuk mengerti ibu. Padahal mempertahankan sepenggal kenangan manis itu sangat penting dan membahagiakan untuk Ibu. Hal itu sering dilupakan kami anak-anaknya yang sering tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Semoga Allah melimpahkan pada Ibu dan Ayah kesehatan, umur dan rezeki yang barokah, dan menjadikan kami anak-anak yang sholeh, yang mampu berbuat baik kepada orangtua, amiin.

Satu pemikiran pada “Semangkuk Bubur untuk Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s