Teaching Contextually : Research, Rationale, and Techniques for Improving Student Motivation and Achievement in Mathematics and Science

Baru-baru ini membaca sebuah paper pendidikan dari CORD yang dipublikasi tahun 2001. Judulnya Teaching Contextually : Research, Rationale, and Techniques for Improving Student Motivation and Achievement in Mathematics and Science yang ditulis Michael L. Crawford. Jurnal 18 halaman ini diawali dengan pembahasan pengertian dari constructivism yang didefinisikan sebagai suatu pandangan kontemporer mengenai pembelajaran, dimana seseorang membangun pengetahuan dan pemahaman baru berdasarkan apa yang sebelumnya telah mereka ketahui.
Jurnal ini mengutip banyak temuan dari berbagai riset, dan memuat berbagai strategi pengajaran dengan menggunakan pengalaman yang dimiliki siswa, pengetahuan awal yang dimiliki siswa, dan berbagai situasi yang up-to-date untuk membuat siswa merasa “I need or want to learn this” terhadap pelajaran matematika dan sains. Juga bagaimana membuat jenis soal yang realistis dan tidak terjebak dalam soal yang “word problem” atau hitung-hitungan angka atau istilah dan pengertian semata.
Ini beberapa contoh soal matematika (untuk tingkat SMA) dalam paper ini yang merangsang dan memanfaatkan ketertarikan, pemikiran logis, pendapat, bahkan emosi siswa :
1. Montgometry adalah ahli farmasi pada sebuah pabrik pembuatan obat. Ia bertanggungjawab untuk memilih ukuran kapsul yang tepat untuk produk perusahaan. Ukuran kapsul menentukan banyaknya dosis. Perusahaan menggunakan delapan ukuran. Tinggi badan kapsul, tinggi tutup kapsul, dan diameter kapsul kemudian disajikan dalam tabel (table tidak saya sajikan disini).
Montgometry harus memilih satu ukuran kapsul untuk produk dosis 25miligram obat antidepresan. Kapsul ukuran berapa yang sebaiknya dipilih Montgometry?
Siswa akan merasa terlibat dan merasa persoalan yang dihadapi adalah sesuatu yang penting dan realistis. Dan soal ini dapat dirubah skenarionya pada kemungkinan kondisi yang akan dihadapi siswa saat ini atau masa mendatang di luar kelas (sebagai konsumen, pekerja, warga negara, dll).
2. Satu lembar kertas buku notes tebalnya kira-kira 2 mils (Satu mils adalah satu per seribu inchi). Apabila anda melipat menjadi setengahnya maka tebalnya menjadi 4 mils. Misalkan anda melipat kertas tersebut 50 kali. Mana dari pernyataan ini yang menjelaskan ketebalan totalnya?
a. Kurang dari 10 kaki
b. Lebih dari 10 kaki tapi kurang dari sebuah bangunan tingkat 10
c. Lebih dari sebuah bangunan tingkat 10 tapi kurang dari tinggi Mount Everest
d. Lebih dari tinggi Mount Everest tapi kurang dari jarak ke bulan
e. Lebih dari jarak ke bulan
Melipat selembar kertas bukanlah hal baru, namun siswa tidak akan familiar dengan 50 lipatan karena tidak mungkin untuk melipat kertas sebanyak itu. Guru menyuruh siswa dalam kelompok kecil untuk berdiskusi mengenai pilihan yang mungkin dan kemudian menyuruh mereka memilih satu prediksi yang benar. Seorang juru bicara masing-masing kelompok menjelaskan alasan rasional dibalik prediksi yang dipilih. Setelah itu pilihan dicatat di papan tulis, siswa harus terbawa kedalam masalah dan sangat ingin mengetahui jawaban yang benar. Pada titik ini, guru dapat membiarkan setiap kelompok mencari tahu ketebalan, tanpa memberi mereka formula. Solusi masalah melibatkan urutan, pola, model matematis, fungsi eksponensial, faktor konversi, kekuatan, dan notasi sains. Solusinya cukup mengejutkan, dan guru dapat mendorong sebuah diskusi kelas atas alasan kenapa banyak prediksi yang salah, kemudian dibutuhkan matematika dalam situasi ini.
3. Sebagai contoh dari merangsang emosi, seorang guru matematika dengan siswa berusia 16-17 tahun dapat menggunakan sebuah artikel majalah yang menggunakan statistik untuk berpendapat bahwa anak muda seharusnya tidak diperbolehkan memperoleh SIM sebelum berusia 18 tahun. Dapat diprediksi, banyak siswa akan merespon secara emosional terhadap argumen ini. Energi yang dihasilkan tersebut dapat diarahkan untuk melibatkan siswa dalam sebuah diskusi atau debat, yang diikuti dengan sebuah tugas kelas yang harus dikerjakan yaitu menulis kritik terhadap artikel tersebut. Kritik harus memuat analisis matematis seperti apakah hasil statistik disalahgunakan? Apakah fakta atau asumsi disalahartikan atau dihilangkan? Apakah argumennya logis? Apabila kritiknya bersifat persuasif, guru bahkan dapat mendorong siswa untuk mengirimkannya ke editor majalah sebagai bantahan.
Soal-soal ini menekankan tujuan utama kita belajar matematika yang menurut saya tercantum dalam kutipan ini : “ a major goal of high school mathematics is to equip students with knowledge and tools that enable them to formulate, approach, and solve problems beyond those that they have studied.” (p.15) atau terjemahan bebasnya: “…Sasaran utama dari matematika di sekolah menengah atas adalah untuk melengkapi siswa dengan pengetahuan dan alat yang memungkinkan mereka untuk membuat formulasi, membuat pendekatan, dan memecahkan persoalan diluar apa yang mereka telah pelajari.”(hal.15)
Namun pengajaran berbasis konteks bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan banyak waktu dan usaha untuk melakukannya walaupun telah diakui bahwa hasil yang diperoleh lebih baik. Dalam paper ini dirumuskan strategi pembelajaran berbasis konteks yaitu REACT :
RELATING (MENGHUBUNGKAN)
Relating adalah strategi pengajaran kontekstual yang paling kuat. Relating adalah belajar dalam konteks dari pengalaman kehidupan seseorang atau sebelum keberadaan pengetahuan. Pengajar menggunakan relating ketika mereka menghubungkan suatu konsep baru dengan sesuatu yang telah sangat familiar bagi siswa, kemudian menghubungkan apa yang murid telah ketahui dengan informasi yang baru. Ketika hubungan (link) itu berhasil sukses, siswa memperoleh pemahaman yang hampir instan. Caine dan Caine menyebut reaksi ini sebagai “felt meaning” (rasa mengerti) karena keberadaan sensasi “aha!”yang menyertai rasa pemahaman ini (Caine&Caine, 1993). Felt meaning tersebut dapat menjadi peristiwa yang penting, ketika seorang siswa pertama kali melihat solusi pada suatu permasalahan dimana ia telah menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk memecahkannya.
EXPERIENCING (MENGALAMI)
Relating menghubungkan informasi baru dengan pengalaman dalam kehidupan atau pengetahuan yang sudah ada sebelumnya yang siswa bawa ke dalam kelas. Tapi pendekatan ini tidak memungkinkan apabila siswa tidak memiliki pengalaman atau pengetahuan awal yang relevan. Guru dapat mengatasi hambatan ini dan membatu siswa membangun pengetahuan baru dengan mengarang, melakukan sendiri suatu pengalaman yang dilakukan di dalam kelas. Strategi ini disebut experiencing (mengalami). Yaitu learning by doing (belajar dengan mengalami) –melalui eksplorasi, penemuan, dan penciptaan. Pengalaman dalam kelas dengan tangan sendiri dapat termasuk di dalamnya manipulatif, aktivitas mengatasi permasalahan/soal (problem-solving), dan laboratorium.
APPLYING (MENERAPKAN).
Applying didefinisikan sebagai pembelajaran dengan cara meletakkan konsep-konsep untuk digunakan. Sebenarnya, siswa menerapkan konsep-konsep ketika mereka melakukan aktivitas hands-on-problem-solving dan projek seperti yang telah dijelaskan. Guru juga dapat memotivasi kebutuhan akan pemahaman konsep dengan memberikan latihan yang realistis dan relevan.
Latihan-latihan ini adalah “word problem (masalah kata)” seperti yang ditemukan di semua buku teks. Tapi mereka memiliki dua perbedaan utama: Mereka mengajukan situasi yang sangat realistis, dan mereka mendemonstrasikan kegunaan dari konsep akademis dalam suatu area kehidupan seseorang. Masing-masing penting untuk memotivasi aplikasi masalah. Contoh soal yang menggunakan strategi ini adalah soal yang nomor 2 tadi diatas.
COOPERATING (BEKERJA SAMA)
Banyak tugas-tugas problem-solving, terutama ketika mereka terlibat dalam situasi realistis, menjadi sangat kompleks. Siswa bekerja secara individual terkadang tidak mampu membuat kemajuan signifikan. Mereka dapat menjadi frustasi kecuali guru menyediakan tuntunan langkah demi langkah (step-by-step guidance). Pada sisi lain, siswa-siswa yang bekerja dalam kelompok kecil seringkali dapat mengatasi permasalahan kompleks ini dengan sedikit bantuan dari luar. Guru menggunakan kelompok siswa untuk melengkapi tugas atau aktivitas tangan yang menggunakan strategi cooperating – yaitu pembelajaran dengan konteks berbagi, merespon, dan berkomunikasi dengan pembelajar yang lain.
Bekerja dengan teman sebaya di dalam kelompok kecil, sebagian besar siswa dapat menjawab pertanyaan tanpa takut malu. Mereka juga akan lebih siap untuk menjelaskan pemahaman mereka terhadap konsep kepada siswa lainnya atau merekomendasikan pendekatan problem-solving pada kelompok. Dengan mendengarkan siswa lain dalam kelompok, siswa mengevaluasi dan memformulasi kembali pemahaman mereka masing-masing. Mereka belajar untuk menghargai pendapat yang lain karena terkadang sebuah strategi berbeda memberikan suatu pendekatan yang lebih baik pada masalah. Ketika sebuah kelompok sukses dalam mencapai sebuah target bersama, anggota kelompok siswa mencapai tahapan percaya diri dan motivasi yang lebih tinggi daripada ketika siswa bekerja sendirian.
TRANSFERRING (MEMINDAHKAN)
Dalam sebuah kelas yang tradisional, peran utama guru adalah untuk menyampaikan fakta dan prosedur. Peran siswa adalah untuk mengingat fakta dan mempraktekan prosedur dengan mengerjakan tugas. Siswa yang dapat me-recall dan mengulang fakta dan prosedur yang tepat akan memperoleh nilai baik pada akhir masa belajar atau akhir semester. Sebaliknya, dalam kelas constructivist (pembangun) dan kontekstual, peran guru diperluas dengan menciptakan berbagai pengalaman belajar dengan tujuan lebih pada pemahaman bukan mengingat. Guru kontekstual menggunakan strategi-strategi yang didiskusikan diatas (REACT) dan mereka menugaskan beragam tugas yang luas untuk memfasilitasi pembelajaran untuk pemahaman. Sebagai tambahan soal yang menggali skill dan word-problem, mereka menugaskan masalah yang berbekas, aktivitas tangan (hands-on-activities) dan realistis dari awal hingga akhir sehingga siswa memperoleh pemahaman awal dan semakin mendalam pemahamannya terhadap konsep.
Siswa yang belajar dengan pemahaman dapat juga belajar untuk mentransfer pengetahuan. Transferring adalah sebuah metode pengajaran yang kami definisikan sebagai penggunakan pengetahuan ke dalam suatu konteks yang baru atau situasi baru – yang belum pernah dibahas di dalam kelas.
Penelitian menunjukkan bahwa, ketika guru mendesain tugas untuk kekinian dan keberagaman, ketertarikan siswa, motivasi, untuk melibatkan, dan penguasaan matematik maka targetan dapat meningkat. Contoh soalnya adalah yang nomor 3 diatas.

Penerapan pembelajaran konstekstual ini juga memiliki banyak kendala, karena kebanyakan guru memiliki kecenderungan untuk mengajar secara tradisional sebagaimana mereka diajarkan. Mengajar secara kontekstual juga memerlukan tambahan waktu persiapan mengajar dan banyak kerja keras. Sehingga perubahan yang terjadi seharusnya bersifat gradual (bertahap) dan didukung banyak pihak terkait.

Jurnal ini bagus sebagai referensi bagi para pendidik (educator), desainer pembelajaran dan pengambil kebijakan pendidikan. Last but not least, silahkan dibaca versi asli papernya, coba di googling aja judulnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s