Autis Bawaan atau Autis Bentukan?

Pada parenting class di sekolah si kakak, pembicara yang adalah seorang psikolog bercerita. Ia bercerita tentang seorang anak yang didiagnosis autis karena menunjukkan perilaku autistik. Anak berusia 2 tahun tersebut belum bisa bicara, tidak menoleh ketika dipanggil, tidak peduli dengan keadaan di sekelilingnya, memainkan mainan tidak sesuai fungsinya, dan seakan tidak menyukai sosialisasi atau bertemu orang lain. Yang menarik kemudian adalah latar belakang keseharian sang anak.

Anak tersebut dibesarkan di keluarga dengan ayah dan ibu yang bekerja. Selama bekerja dari pagi hingga hampir malam, sang anak dititipkan kepada neneknya, itu dilakukan sejak ia berusia tiga bulan. Sang nenek kebetulan memiliki toko yang cukup ramai, sehingga si anak seringkali didudukkan di depan TV, CBSA (Cul Budak Sina Anteng) maksudnya mungkin. Si nenek yang baik ini juga memiliki kemampuan membaca pikiran, sehingga pada saat tertentu ia memberikan minum, susu, menyuapi makan, bantal, atau mainan didekatnya, seringkali tanpa diminta si anak. Bahkan ketika berusia setahun, sang nenek dititipi seorang bayi dari anaknya yang lain. Otomatis perhatian si nenek tercurah pada bayi baru ini, dan tentu masih juga pada tokonya.

Begitu yang terjadi setiap hari kerja, hingga usia si anak dua tahun. Kemudian kecemasan mulai timbul saat orangtuanya menyadari ada yang berbeda dari anaknya dibandingkan anak seusianya. Hingga sampailah ia mendapat diagnosa autis. Setelah psikolog mendalami latar belakang si anak, psikolog mulai menganalisis bahwa kemungkinan besar sikap autis yang ditunjukkan bukanlah autis bawaan, melainkan autis bentukan. Ia terbiasa dibiarkan, jarang diajak berinteraksi, diberi mainan tapi tidak diajari cara memainkan, tidak merasa perlu bicara karena kebutuhannya terpenuhi. Okelah kalau benar ia memiliki autis bawaan, tapi persentase autis bentukannya masih lebih besar. Tapi mereka masih beruntung, karena hal itu diketahui lebih cepat sehingga masih bisa dilakukan langkah-langkah pemulihan pada si anak.

Point awal cerita itu, pastinya ketulusan sang nenek yang sudah cape mengurus anak, kini harus cape pula mengurus cucu, dan tentu saja jangan pernah menitipkan anak tanpa menitipkan pola asuh. Tapi selain itu, ada point yang menarik dari cerita itu bagi saya, yaitu dalam keseharian kita juga sering menemukan sikap orang dewasa yang memiliki perilaku autistik. Mulai dari sibuk sendiri (sibuk sama gadget-nya), tidak peduli sekitarnya (kupingnya dipasangin earphone), ataupun tidak menyukai sosialisasi (gaulnya cukup di dunia maya). Bahkan pernah suatu pagi di dalam angkot, saya bertemu seorang pelajar SMU, dengan earphone di kuping, sama sekali tidak mau bergeser memberi tempat duduk untuk yang baru masuk, sibuk mainin handphone, dan parahnya ketika turun kakinya meninjak ibu yang duduk di sebelah saya tanpa meminta maaf (mungkin dia bahkan ga sadar sudah meninjak kaki orang). Astagfirullah..halow, apa kabar sama generasi penerus bangsa? Bayangkan parahnya ketika autis bentukan ini diidap para orang-orang penting negara ini, orang-orang yang seharusnya melayani masyarakat, atau diidap para orangtua yang kemudian mewariskan autisme bentukan ini pada generasi selanjutnya.

Saatnyalah menghentikan siklus ini. Letakkan gadget kita sejenak, mulailah bermain bebas dengan keluarga, menyapa tetangga anda, tersenyum pada banyak orang, dan menolong dengan tangan kita sendiri. Rasakan dan tularkan pada yang lain. Coba yuk!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s