Ketika Anak Tidak mau Diam

Anak usia dua sampai tujuh tahun, ga mau diam, mereka sepertinya punya energi banyak sekali. Bener kata iklan, “anak-anak, tidak bisa pelan-pelan”.Setiap bangun tidur seperti mainan yang baru diisi baterai baru, and sometimes, bikin ortu jadi pusing juga…

Yang ortu bisa lakukan adalah mengawasi, memberi pengertian, dengan sebaiiik mungkin.

I had a bad experience about this one

One day with a hot weather, kedua anak laki-lakiku benar-benar ga mau diam. Mulai dari acak-acak mainan, kotorin rumah, numpahin air, berkelahi, nangis, rebutan mainan, semua jadi satu. Kebetulan diriku lagi PMS dan lagi capee banget (what a perfect combination).

Akhirnya, meledak juga. Mulai marah-marah sama anak-anak, dan akhirnya tercetuslah kalimat itu. “Kenapa sih, anak-anak pada ga mau diam, coba sekali-sekali diam, sebentar aja..”

Beberapa hari berganti, anakku yang kecil badannya panas. Ga tau kenapa dari pagi rewel, tidak main seperti biasa. Tidak mau makan, padahal panasnya tidak terlalu tinggi. tapi tetap aku minumin obat penurun panas. Sore hari, saat panasnya mencapai 37,5 derajat celcius, kupegang jari-jari tangan dan kakinya dingin, sementara dahi dan lehernya panas. Baru saja mau ambil kaus kaki, masya allah..tiba-tiba badannya mengejang, matanya bolak balik berbalik keatas, dan tangannya mengepal. Untngnya di rumah sedang ada ibu, langsung aku panggil, dan kita berdua langsung naik mobil menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, jempolku masuk ke mulutnya untuk menahan gigi yang menekan kuat, karena takut menggigit lidahnya sendiri.

Sampai di rumah sakit, tidak banyak yang dapat dilakukan. Dokter menyuruh membaringkan si adik, mengganti jempolku dengan sejenis sendok kayu yang terbungkus kain. Lalu, dokter memasukkan sejenis obat penenang (seperti obat tidur saya kira) ke dalam anusnya (perlu diingat, anak kejang tidak boleh disuntik, ataupun diberi minum..). kejangnya cukup lama (apalagi terasa oleh ku), hingga akhirnya kejangnya melemah dan ia kelihatannya tertidur. Kata dokter, sengaja ia ditidurkan agar kejangnya melemah, dan ia diperkirakan akan tidur paling lama sekitar dua jam. Dokter pun merujuk adik untuk dirawat.

Di ruang perawatan, adik masih belum sadar. Setelah hampir tiga jam, ia belum juga sadar. Dokter mulai khawatir (apalagi saya..). Hingga empat jam ia belum sadar. Dan saya mulai bolak balik bertanya pada suster dan dokter. Dokter perempuan itu mendekati saya, ia bilang, “Saya tahu ketika ibu bertanya apa anak saya tidak apa-apa, ibu mengharapkan saya bilang tidak apa-apa. Tapi ibu, kondisi anak ibu memang apa-apa, kondisinya seharusnya tidak seperti ini, kita berdoa saja semoga ia tidak apa-apa dan segera sadar.” and i start to crying..(again, actually i started crying long berofe i’ve arrived at the hospital).

Alhamdulillah..setelah lebih dari 4 jam menunggu, ia sadar, mulai menggerak-gerakkan mulutnya. Mulut dsan badannya pasti terasa nyeri, karena proses mengejang tadi.

Beberapa hari selama adik dirawat. Ternyata hal yang sama terjadi pada kakak. Dengan durasi yang jauh lebih singkat dengan adik, walaupun juga kami memutuskan dirawat juga untuk observasi.

Kuingat sekali, dikeheningan malam di rumah sakit,
Melihat kedua anakku terbaring… tenang…dan diam
Allah benar-benar telah memberikan aku pelajaran berharga
Allah menegur keras sikapku pada anak-anakku
dan membuatku belajar untuk menjaga ucapanku..
Astagfirullah..

Alhamdulillah kedua anakku tidak apa-apa, dan sehat kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s