Being A Reader (2)

Saya pernah jadi reader tuna netra yang adalah mahasiswa baru, berasal dari salah satu daerah di Jawa Barat, kelihatannya polos sekali. Tapi jangan salah, jago sekali bahasa inggris. Dia ambil sastra inggris. Dia paling suka saya reader-in, pronounciation-nya enak katanya🙂

Teman baru saya ini tidak melihat sejak lahir, ia tidak punya bola mata. Suatu kali, dia pernah bertanya :
Dia: Teh, warna pink itu seperti apa sih ?
Saya : Emangnya kenapa? (sambil mikir, bagaimana menerangkan warna ya, dia kan belum pernah melihat)
Dia : Tembok kelas kan mau dicat. Trus ada voting. Temen2 perempuan pada ngajak saya pilih warna pink. Eh, sama temen2 laki saya jadi diketawain. Memangnya pink itu seperti apa?
Saya : Warna pink itu…. Kaya….pokoknya pink itu identik dengan perempuan (not a good answer ya?)
Yang pasti, sepanjang sore itu saya hampir dibuat menangis dengan pertanyaan-pertanyaannya. Saat itu, saya kian menyadari betapa jarangnya kita bersyukur dengan nikmat melihat yang Allah berikan..karena teman tunet yang satu itu memang polos sekali, dia bahkan bertanya tentang “cantik itu seperti apa?” dia juga bilang saya cantik🙂

Saya : Tau dari mana saya cantik?
Dia : Saya tanya sama temen-temen saya, teteh yang ng-reader-in saya cantik atau enggak
Saya : hohoho…. (ya iyalah, kalo dibilang jelek ntar saya nya kabur)
Pas saya cerita ke temen reader lain, yang ada saya diketawain. “Kesian banget kamu, sekalinya dibilang cantik sama yang ga ngeliat”. Iya juga, tapi halow…apa kabar sama inner beauty?

Trus saya juga pernah jadi reader ujian. Pernah dicurigai abis-abisan waktu jadi reader ujian di UPI. Pas di STBA, dosennya duduk di sebelah saya malah…weleh weleh, ada tampang kriminal juga rupanya saya ini..

Saya juga pernah jadi reader seorang PNS. Mengerjakan laporan-laporan beliau. Dan saya lihat sih, ada kesenjangan dalam pekerjaannya. Ia seperti hanya dianggap mengisi jatah departemen yang harus diisi oleh orang difable, tanpa jobdesk yang sesuai. Beliau punya istri dan dua anak yang mampu melihat normal. Setiap nge-reader dan ngetik tugas si bapak, istrinya selalu menyediakan saya mie instant dan teh manis…(dan selalu habis! maklum abis kuliah). Bahkan, di akhir pas laporan selesai, dia mau memberikan saya sejumlah uang. Saya menolak, saya bilang, “Udah dibayar kok pak, pake mie sama teh manis”.(Dibayarnya sama Allah aja pak, di akhirat, amiin).

Teman-teman yang tidak melihat ini mengajari saya banyak hal. Banyaaak sekali bahkan mungkin tanpa mereka sadari mereka membantu saya lebih banyak daripada saya membantu mereka. Mereka membantu saya melihat. Melihat dengan mata hati… Semoga Allah membalas kebaikan mereka berlipat ganda, melapangkan rizki mereka, dan memudahkan segala urusan mereka, amiin.
Untuk yang punya kesempatan, saya merekomendasikan untuk menjadi reader. Ini pengalaman berharga. Kesempatan untuk belajar sekaligus beramal.Ayo!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s