Mendidik Anak sesuai Zamannya


Suatu hari, si kakak (5,5 tahun) memegang beberapa robot transformer, mendekati neneknya.

Kakak : Nek, tau nggak ini namanya siapa aja?
Nenek : Tau, ini Semar, Gareng, sama Petruk..
Kakak : Gubrak !!

Hehehe, terang aja sang nenek ga bisa menjelaskan transformer. Dua insan tadi memang dibesarkan dalam zaman yang”bener-bener” berbeda.

Ali Karrama Allahu Wajhahu lima belas abad yang lampau telah memberikan warning akan hal di atas terhadap para guru sebagaimana tertuang dalam sebuah makalah berbahasa Arab “maqaallatu mauqi’i al-aluukah” :

عَلِّمُوْا أَوْلاَدَكُمْ عَلٰى غَيْرِ شَاكِلَتِكُمْ فَإِنَّهُمْ مَخْلُوْقُوْنَ لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ

“didiklah (persiapkanlah) anak-anakmu atas hal yang berbeda dengan keadaanmu (sekarang) karena mereka adalah makhluk yang hidup untuk satu zaman yang bukan zamanmu (sekarang)”
(diambil dari : /dakwah-2012.blogspot.com/)

Dengan kata lain : Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya karena mereka kelak akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu.

Seorang teman bercerita, ketika ia menasehati adiknya.
Kakak : Kamu tuh enak, segala fasilitas ada. Tinggal belajar yang bener.
Adik : He eh… (tanpa ekspresi)
Kakak : Ke sekolah pake motor, punya komputer, handphone. Waktu kakak boro-boro begitu. Ke sekolah jalan kaki, belajar pinjam buku sana sini. Kamu tuh hidupnya enak
Adik : Ya udah, siapa suruh lahir duluan..
Kakak : (dalem hati) bener juga…

3 Tahapan mendidik anak menurut Imam Ali bin Abi Thalib tentang Bagaimana seharusnya mendidik anak (diambil dari blogsamudra.blogspot.com), ada 3 tahap dalam mendidik anak. Yakni :
1. Umur 0-6 tahun anak sebagai Raja
2. Umur 7-18 tahun anak sebagi Tawanan, dan
3. Umur 19-23 tahun anak sebagai Rekan (Sahabat).

Pertama, pada usia 0-6 tahun usianya, anak ini ialah Raja, ia mau diberikan apa saja yang ia minta,yang intinya setiap keinginan raja harus di turuti. Begitu juga seorang anak yang umurnya masih di bawah 6 tahun, orang tua harus menahan keinginannya demi menyenangkan dan memenuhi keinginan anaknya.
tapi orang tua yang tdk pandai dalam memperlakukan seorang raja dengan cermat,, maka raja akan lalai dan terlena dengan tahta yang ia duduki sekarang ini sehingga ia akan terus terlena dan berkepanjangan.

Kedua, pada saat usia 7-18 tahun,, ini adala musim persekolahan,atau masa-masa sekolah, sehingga saidina Ali mengatakan ia (anak) bukan sebagai raja lagi melainkan sebagai tawanan, Mengapa? Karena seorang tawanaan harus mengikuti perturan dan arahan yang telah di tetapkan, ia harus berseragam sekolah, memakai sepatu, dan aturan-aturan yang lainnya lagi, tapi umumnya anak-anak tidak mau seperti itu, ia mau bebas,seperti masa-masa ia umur 6 tahun kebawah. Di sinilah tugas orang tua yang harus terus mengingatkan, tapi orang tua yang tdk pandai dan cermat dalam menawan seoarang tawanan maka anak-anak akan lari mencari tempat-tempat yang ia anggap baik dan menenangkan baginya. Oleh karenya ,orangtua harus punya kemahiran dalam menawan seorang tawanan, ini adalah proses yang paling lama, karena di mulai dari umur 7 sampai 18 tahun.

Ketiga, usia 19 – 23 tahun,ia bukan tawanan lagi melainkan sahabat atau kawan kita , begitu kata saidina Ali, tahap ini adalah tahap yang orang tua harus menjadikan anaknya sebagai seorang sahabat atau rekan, oleh karenanya orang tua harus cermat bagaimana berbicara dengan seorang sahabat,karena berbicara denagn seorang sahabat berbeda dgn berbicara dengan seorang raja dan juga dengan tawanan,hal ini dilakukan supaya anak merasa tenang dan mudah untuk berbagi dengan orang tuanya, dan pada akhirnya orang tua akan mudah mengetahui kesulitan-kesulitan dan permasalahan yang sedang ia (anak) hadapi.

Jadi gitu fren, yuk belajar parenting !

4 pemikiran pada “Mendidik Anak sesuai Zamannya

  1. pedulitakcukupdihati

    Terimakasih mba aeni atas koreksinya. Sudah saya perbaiki, bahwa ternyata kalimat tersebut bukan hadits melainkan nasihat dari sahabat Rasululllah SAW yaitu Ali bin Abi Thalib.

  2. Ping-balik: Saat Sarapan … – permadya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s