Ketika anak minta disunat


Alhamdulillah, rasanya senang dan bangga waktu si Kakak (5,5 tahun) minta disunat. Artinya, tidak perlu dibujuk apalagi dipaksa. Prosesnya pun insya Allah lebih mudah kalau anak yang minta.

Kebetulan pas liburan kemarin, beberapa temannya ada yang disunat, dan setiap ada undangan syukuran khitanan si kakak selalu diajak. Wah, yang disunat itu banyak uang dan mainan ya..hehehe.

Plus dicontohkan banyaknya teman dan saudaranya yang sudah disunat. Tambah lagi itu adalah proses yang harus dilewati setiap laki-laki muslim. Akhirnya kakak minta disunat, dan sampai maksa-maksa. Sekarang aja, katanya.

Prosesnya tidak sederhana. Mulai dari memilih tempat khitan. Tentu yang kredibilitasnya dipercaya dan sesedikit mungkin menyakitkan. Sebenarnya di Bandung ada tempat khitan yang terkenal, sampai ke Jakarta, letaknya di Bypass. Katanya sih, anak akan mau masuk ruangan sendiri (dan memang tidak boleh diantar), dan tak menangis sampai tiba di rumah. Ada yang bilang pakai hipnotis, wallahu’alam.

Saya sendiri memilih di Klinik Luhur Medika dengan pertimbangan lokasi yang dekat dari rumah. Untuk biaya (biasanya sudah sistem paket) Rp.350.000,- terdiri dari tindakan khitan, celana pasca khitan, obat pulang, dan sekali kontrol. Kalau di Bypass biayanya Rp.280.000,-.

Si Kakak sendiri sama sekali tidak menangis, sampai waktu dibius. Karena biusnya disuntik 3 kali. Katanya sih ada juga yang pakai metode semprot. Mungkin itu bagus juga supaya anak tidak nangis di awal. Kakak menangis tambah keras saat melihat alat-alat medis, seperti gunting dkk. Dan menangis terus hingga proses selesai, sempat diam, sampai rumah menangis lagi…

Semua sempat cemas karena kakak menangis cukup histeris dan semua disuruh berdoa tidak boleh berhenti. Kalaupun diam, tak lama menangis lagi. Sore hari, setelah pipis, ia baru tenang dan mulai bicara. Rupanya ia nangis karena pengen pipis danngeri melihat bekas khitannya.

Kalimat pertama yang keluar adalah, ” Nenek bohong, katanya kayak digigit semut, ini mah kayak digigit harimau, ditusuk gigi gajah, terus tititnya dibawa angin puting beliung”. Semua jadi senyum denger ungkapannya yang hiperbola itu. tapi memang, rasanya pasti sakit. Pengorbanan kaum pria yang memang menjadisunnah penerus ibrahim. Insya Allah pahalanya besar ya kak….

Setelahnya, dapat ditebak, anak habis disunat itu, BANYAK UANG… nenek, kakek, abah, enin, om, tante, ua, bude, bule, dan semua-semuanya ngasih angpaw pada si kakak yang abis disunat.Si Kakakpun belimpah mainan…

Apresiasi pada anak yang mau disunat memang perlu selama tidak berlebihan, dan bagi yang belum harus dimotivasi dengan cara yang tepat sesuai karakter si anak. Jangan memaksa. Jangan menakut-nakuti. Kalau bisa sih jangan dengar cerita ngeri-ngeri tentang sunat pada yang belum disunat. Karena, ada anak yang histeris ketakutan hanya karena ditanya kapan disunat, atau adik yang trauma berat karena melihat kakaknya disunat. Anak tetangga pas ditanya, “Mau engga disunat?.” Dia jawab “Ga mau, takut mati.”

Beberapa hari setelah proses khitan dan syukurannya berjalan lancar, Kakak mendekati adik lalu bilang, “Adik disunat ya, nanti uangnya buat kakak.” Gubrak!

Buat parents, be careful dengan proses dan suasana khitan ini ya. Kakak saya yang seorang guru bercerita, pernah ia minta murid-muridnya (SMA) menuliskan kisah paling berkesan dalam hidup. Ternyata, sebagian besar murid laki-laki menceritakan tentang kisah “khitanan”nya.
So, make it an unforgetable moment (dalam arti positif ya..)!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s