Parenting : A Life Time Learning

I was thingking that raising a child is a natural things, it’s a matter that can be done by everyone—specially every mom. But now I realize that my assumption was wrong.
Terus terang dulu, waktu masih single ga kepikir bahwa parenting itu adalah hal penting. Bahkan saya sempat berpikir kalau seseorang menjadi ibu, otomatis insting untuk caring, loving, and educating itu bakal timbul dengan sendirinya.

Kini, setelah punya dua anak, baru sadar bahwa parenting is a matter that has to be learned. And sometimes it takes time, moreover, a lifetime learning.
Ketika saya punya anak kedua, ternyata anak pertama cemburu berat dengan sang “new comer” ini. Dan karena mungkin gemas dengan sang adik. Kakak suka menunjukkan kegemasannya dengan cara yang agak berbahaya. Karena waswas dan mendengar kisah buruk orang lain (bayangkan saja, ada lho yang kakak mencium adik bayinya yang sedang tidur, tidak sengaja tangan dan badannya menindih sang adik bayi hingga tewas..naudzubillah). Akhirnya, dengan berbagai alasan (dan ketidaksiapan sibuk dengan dua anak) saya seringkali menitipkan sang kakak ke neneknya (walaupun ketika bekerjapun dititipkan, tapi sekarang lebih sering lagi).

Setelah memutuskan menjadi full time mother, kakak dan adik mulai dipersatukan kembali dan ternyata saya menemukan kesibukan luar biasa, dan energi yang dibutuhkan untuk mengatasi dua anak ini tidak sesederhana yang saya pikirkan. Belum lagi semacam “post power syndrome” yang terjadi dari peralihan career woman to fulltime mother (Biasa pegang komputer, sekarang pegang sapu atau panci..). Plus minimnya komunikasi dengan tim sukses yaitu suami yang sering berada di luar kota. Akumulasi stress itu akhirnya terjadi, dan parahnya, ketika sudah pada puncaknya, saya suka memarahi si sulung. Awalnya saya merasa hal itu wajar, karena kakak yang sudah besar dan tidak bisa diam sedangkan adik masih bayi. Namun, setelah saya kemudian suka main tangan (cubit atau pukul ), saya mulai menyadari ada sesuatu yang salah.

Saya menyadari bahwa ada perasaan “lega” ketika saya memarahi atau main tangan pada si sulung. Perasaan stres saya dapat terlampiaskan. I realize that I was wrong, and I need help. Juga saat memperhatikan si sulung menjadi kasar, it’s shock me. Sejak itulah saya mulai mencari tahu segala hal tentang parenting. Membaca buku, berdiskusi dengan teman (terutama yang punya anak banyak), bertanya pada banyak ibu tentang pengalaman mereka, browsing, hingga bertanya pada psikolog.

More and more I find out, more I realize there’s much matter that I haven’t know yet. Saya masih harus banyak belajar. More and more. Learning and practicing. Mendidik anak sesuai usia dan kebutuhannya. Perjuangan masih panjang……and it require lots of effort. Gambatte!

Suami saya pernah cerita, males banget dengerin ibu-ibu yang cerita tentang anaknya, umur sekian udah bisa ini itu, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Kesannya si anak ‘perfect’ banget, pinter, ga ngerepotin, dan akhirnya ngebanding-bandingin dengan anak orang lain. Nanya-nanya anak kamu udah bisa apa, kok belum bisa gini, atau begitu, begene, dan begono. Please deh, yang gitu aja diceritain. Bahkan suami berpesan saya jangan sampai jadi ibu-ibu yang seperti itu…hehehe, memang ada loh ibu-ibu yang begitu. Ada yang pada taraf biasa, sampe ada yang parah banget…dan emang nyebelin.

Satu fakta penting yang pernah saya temukan, ada teman yang kalo muji-muji anaknya ‘super’ banget ternyata pas berkunjung ke rumahnya. Si anak adalah anak biasa yang juga ternyata suka rewel, maksa, dan tidak se’super’ yang kita bayangkan dari ceritanya. Bisa jadi anak memang ‘baik’ di satu hari dan ‘beda’ di hari lainnya. But one thing for sure is : Every child is different. Jadi jangan men-judge, jangan mem-bandingkan, dan jangan muji berlebihan…. Istilah sastranya: sombong mah saha wae bisa, teu kudu diajarkeun..hehehe.

Jadi kesimpulannya, saya siap belajar, mendengarkan nasehat dan pengalaman tentang parenting, harus siap pula menekan “ego” mentang-mentang jadi orang tua, siap “disalahkan”. Mengingat dan menimbang bahwa anak adalah amanah, fitnah, dan ladang pahala bagi kedua orangtuanya.

Tapi, satu kalimat bagus yang saya kutip dari majalah Ummi, ” Tidak ada orangtua yang sempurna, yang ada adalah orangtua yang paling saya sayangi”.

Ya Allah, jadikan saya orangtua yang dicintai anak-anak saya, amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s