The Economics of Cabe Rawit China

Selepas Maret, dimana harga cabe dan cabe rawit (orang sunda bilang ‘cengek’) melonjak gila-gilaan, di pasar dan warung-warung mulai ditemukan cabe rawit jenis baru. Bentuknya seperti cabe merah, bentuknya sedikit lebih besar dari cabe rawit yang biasa kita temui. Para penjual menyebutnya, cabe rawit china. Dan harganya, seperti produk china lainnya, bener-bener miring, apalagi dibandingkan harga cabe rawit yang saat itu seribu cuma dapet empat biji. Harganya cuman setengah harga cabe rawit lokal !

Berbekal rasa penasaran, dibeli juga tuh cabe rawit china. Ternyata saudara-saudara, rasanya tidak kalah pedas dengan cabe rawit merah lokal, hampir sebanding dengan cabe rawit yang orang sunda bilang ‘cengek domba’. Mantep juga pedesnya nih cabe. Juga berpenampilan bagus (merah, mulus, mengkilap) dan lebih tahan lama (ga cepet busuk). Tapi, terus terang dalem hati was-was mengingat reputasi barang-barang china yang kualitas dan keamanannya dipertanyakan.

Seperti kita ketahui, nilai mata uang china (yuan) memang selalu terdepresiasi terhadap rupiah. Akibatnya, nilai impor mereka menjadi lebih murah buat kita, dibanjirilah kita dengan barang-barang china (buat membandingkan, pake purchasing power parity kali ya..). Dampak dominasi produk china ini cukup fatal lo, selain membuat neraca perdagangan Indonesia defisit (“apaan tuh, ga penting”,kata rakyat) juga membuat menurunkan minat konsumen terhadap produk lokal. Parahnya, kalo sampai produsen di Indonesia memutuskan lebih baik jadi penjual aja daripada jadi produsen, akibatnya terjadi kelesuan dalam industri dalam negeri, juga that’s mean unemployment—pengangguran, baik tenaga kerja maupun sumber daya lainnya.

Parahnya ketika hal ini terjadi juga di bidang pertanian, gimana coba kalo petaninya ngambek karena harga-harga barang pertanian impor jauh lebih murah dari hasil tani mereka? Akhirnya mereka terbujuk developer menjual tanahnya untuk menjadi komplek mewah (kenapa jadi komplek mewah nih, mentang-mentang belom punya rumah bagus). Bisa-bisa Indonesia ga punya lagi tanah pertanian, padahal tanahnya subur. Memperparah Global Warming…
Pemerintah harus cepet2 mengatasi dgn memberi insentif bagi petani, kaya subsidi bibit dan pupuk, perlindungan pasar terhadap barang impor (setelah ACFTA, mungkinkah?) atau tindakan apapun yang dirasakan perlu. Indonesia kan banyak punya economist yang pinter-pinter, yang sekolah di luar negeri, jangan jadi ningrat scholar yang kerjaannya bikin model melulu, please turun ke bumi dan bantulah bangsa ini dengan kemampuanmu (ngomongnya biasa aja dong, ga usah pake iri dengki gitu…peace ). Dan untuk yang mengaku warga Negara Indonesia, please eksplorasi kekayaan bangsa kita, pakai produk dalam negeri, kalo ga produknya ga memuaskan, kasih saran dan masukan, jangan tinggalin produknya. Kalo ga bisa pake produk dalam negeri, pakailah minimal yang manufactured di Indonesia, setidaknya, tenaga kerja kita terhidupi disana, dan plant (pabrik) biasanya menumbuhkan aktivitas ekonomi disekitarnya.

Kalo bicara apakah semua produk Indonesia akhirnya akan menghilang digantikan impor yang lebih murah atau bahkan lebih berkualitas? Dulu, kita bisa bilang ini tidak akan terjadi pada barang-barang yang merupakan produk ‘khas’. Tapi sekarang, batik dan angklung pun ada yang made in China. Nah, sekarang udah boleh nangis kan, huaaaa………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s