The Economics of Ayam Serundeng


Hari ini, dengan sebongkah niat dan segenggam semangat, diriku mencoba masak masakan yang tergolong advance dalam dunia masak-memasak yaitu ayam serundeng. Berbekal buku resep setebal lebih dari 200 halaman berjudul “Kitab Masakan”, daku menuju tukang sayur. Setelah mengamati, menimbang, dan akhirnya memutuskan, ada beberapa bumbu yang ga dipake atau ditambahkan.
Yang diperlukan buat bikin ni ayam adalah
(plus harga-harganya rinci, harga spot cihanjuang-cimahi pada 11/05/11, 09:15):

Ayam 1 kg potong jadi 10 Rp. 23.000,-
Bawang Merah 5 siung Bawang Putih 3 siung Rp. 1.000,-
Sereh 3 (kalo daku dikasih gratis sama tukang sayur) Rp. 500,-
Ketumbar 1 sdt Rp. 500,-
Gula merah ½ gandu Rp 500,-
Jahe 2 ruas (jahe lagi mahal lo..) Rp 1.000,-
Garam 1 sdt Rp 500,-
Kemiri 2 buah disangrai dulu Rp 500,-
Kelapa parut ¼ kg Rp 2.000,-
Minyak Goreng ½ kg Rp 6.500,-
Jumlah Rp 36.000,-

Cara bikinnya :
Bumbu dihaluskan, campur ayam, kasih air kira-kira 4 gelas, presto selama 10 menit aja. Udah gitu, ambil ayamnya, sisa air bumbu dimasukkan kelapa parut, biarkan mendidih. Angkat kelapa (disaring). Siapkan wajan, kasih minyak, goreng ayam hingga kecoklatan, angkat. Kurangi minyak, goreng kelapa yang tadi disaring, tambahkan gula pasir dan garam sampe agak garing, masukin ayam yang tadi digoreng (ya iyalah, masa ayam idup). Masak pake api kecil sampe bosen..eh, sampe cukup kering. Sajikan. Waktu pengerjaan total 2 jam (ini buat yang masih amatiran kali ya..)

Nah, biaya yang yang diatas tuh bisa dibilang Variable cost. Total variable cost adalah Rp.36.000,- now, lets we count the fixed cost :

Gaji karyawan 2 jam (disini, diriku, sebagai koki) Rp 10.000,-
Sewa tempat per hari (my kitchen) Rp 2.000,-
Perawatan Alat Rp 3.000,-
Listrik Rp 1.000,-
Air Rp 1.000,-
Gas Rp 6.850,-
SMS tukang sayur-sesama telkomsel(janjian) Rp 150,-
Jumlah Fixed Cost Rp 24.000,-

Jumlah modal alias Total Cost ( TC = VC + FC ):
36.000 + 24.000 = 60.000 Hasil 10 buah quantity (Q)
Price (harga pokok) (P = TC/Q) : 60.000/10 = Rp. 6.000,-
Kalo ditambah lalapan dan sambel yang diperkirakan seporsi Rp 1.000,- (ceteris paribus), maka harga pokoknya menjadi Rp 7.000,-
Kalau kita mau dapet untung harus berhasil menjual :
Rp 60.000,- : Rp 7.000,- = 8,571 atau 9 buah.
Berarti dari jual 10 ayam untungnya cuman senilai satu ayam, yaitu Rp 7.000,-
Hua…dikit banget, belum lagi kalo diicip-icip sama yang masak…abis deh.

Berdasarkan market survey, deket rumah ada yang jual ayam serundeng Rp 7.000,- udah plus sambel lalap. So, dengan berasumsi bahwa setiap orang adalah a rational economic man, ga usah masak, beli aja deh. Tapi masih dengan asumsi yang sama kita tetap bisa meraih economic gain dengan sudut pandang :
1. Masak sendiri lebih murah karena dengan melangkahkan kaki beli ayam yang notabene lebih jauh daripada jalan ke dapur, waktunya bisa dipake buat yang lain (opportunity cost), trus sol sandal yang kita pake jalan jadi lebih tipis (shoe leather cost ga tuh…), apalagi kalo keluarnya pake dandan dulu (bedak cost..hehe). Jadi lebih ekonomis bikin sendiri.
2. Secara kesehatan lebih terjamin, minyak gorengnya bukan yang udah item karena dipakai berkali-kali, ga pake msg, lalapannya dicuci dulu, ayamnya seger, de el el. Kesehatan kan investasi, jadi biaya kesehatan masa depannya (future cost) bisa ditekan. Ekonomis juga kan.
3. Pada saat memotong ayam, untuk mendapat potongan yang lebih banyak ayam bisa dipotong 12 (you’ll still have a big piece) atau kalo anaknya banyak bisa sampe 20 potong. Ini sih beneran ekonomis dan ngirit.
4. Memasak dengan happy apalagi ditemenin music, bayangkan dirimu adalah Farah Quinn, hasilnya dinikmati, bagus banget buat refresh pikiran, it’s good for your soul. Ini kalo dihargain cukup mahal.
5. Dari perhitungan tadi, biaya karyawan mengambil porsi cukup besar. Bisa juga dikurangin sih, but I won’t do that walaupun labor supply cukup abundant. Nanti dimarahin serikat karyawan. Go Labor Power!
6. Biaya lain juga kayanya dihargain terlalu besar, misalnya gas dan sewa dapur… tapi ya sudahlah kalo begitu.

So, lets cook it again next time!

Satu pemikiran pada “The Economics of Ayam Serundeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s