Suami siaga

Sumardi terus mengayuh sepedanya. Panas matahari dan udara lalu lintas yang berdebu tak mampu menghalangi. Di kursi kecil gagang sepeda depan tampak Firman, putranya yang berusia 6 tahun. Di kursi boncengan belakang, duduk istri tercinta yang sedang hamil 5 bulan dan anak ketiganya yang berusia 3 tahun. Berat sadel sepeda yang dikayuh dan jauh jarak yang harus ia tempuh tak menggetarkan semangat. Ini adalah bentuk tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga.

Akhirnya, jarak sekitar 30 km antara tempat tinggalnya di Baleendah dan Cigondewah berhasil ditempuh dalam dua jam. Kini, ia berdiri di depan Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) Dompet Dhuafa Bandung. Bangunan itu tampak megah, rasa ragu sempat menghinggapinya. Namun perkataan temannya, Murjaya teringat kembali, bahwa melahirkan di RBC betul-betul tidak ditarik biaya. Sumardi mencoba yakin masuk ke dalamnya.

Ternyata di meja depan ia sudah disambut ramah, seorang petugas membimbingnya ke ruangan untuk diwawancara. Kelengkapan yang ia siapkan berupa kartu keluarga, surat nikah, dan surat tidak mampu dari Kelurahan dan DKM Masjid ia keluarkan. Budiansyah, nama petugas yang mewawancarainya ternyata sangat ramah. Ia tidak hanya ditanyai tentang kondisi keluarga dan ekonomi, namun juga kebiasaannya menjalankan ibadah. Saat ia diwawancara, istrinya menjalani pemeriksaan oleh bidan. “Asa disambut, sadayana ramah ka abdi” (Seperti disambut, semuanya  ramah pada saya), istri Sumardi  mengingat saat itu dengan senyum.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Sumardi mendaftar menjadi member RBC. Ia yang menjadi security di sebuah pabrik baru mengalami PHK tiga bulan sebelumnya tanpa alasan yang jelas. Kejadian yang tiba-tiba itu cukup mengagetkan bapak dengan tiga anak itu. Gaji terakhir yang tidak mencapai 800 ribu ia gunakan sebagian untuk modal berjualan. Berjualan cilok ia pilih sebagai penyambung hidup. Namun usia kandungan istrinya, Rosi Setiani yang kian bertambah membuatnya berpikir keras. Biaya persalinan di bidan rata-rata lima hingga enam ratus ribu rupiah. Penghasilannya berdagang cilok hanya mampu memenuhi kebutuhan makan harian, itupun dengan kondisi minimum. Menghidupi satu istri dan tiga anak bukan hal mudah, apalagi anak terbesarnya sudah duduk di kelas satu SMP. Mau pinjam, tidak ada yang percaya meminjamkan.

Pernyataan diterima sebagai anggota RBC sangat disyukurinya. Setiap bulan sesuai jadwal yang diberikan, ia mengantar istri untuk kontrol ke RBC. Masih dengan sepeda tuanya, disertai kedua anaknya. “Lillaahita’ala, ini bentuk ikhtiar saya”, Sumardi menambahkan.

Akhir Agustus 2007, istri Sumardi merasakan air ketuban mulai rembes, padahal usia kandungan belum genap delapan bulan. Dengan bantuan warga kampung ia berhasil meminjam kendaraan untuk mengantarnya ke RBC, Sumardi sangat cemas saat itu. Rosi sempat ditangani di RBC, tapi kemudian dirujuk ke RS Sariningsih. Petugas dari RBC terus mendampingi. Layanan yang diperolehnya pun tidak dibedakan dengan pasien yang membayar. “Abdi asa hutang budi, salut pisan kana perjuangan petugas RBC. Teu dibenteunkeun sareng nu mayar, teu sapertos carita nu nganggo Jamkesmas” (Saya merasa hutang budi pada perjuangan petugas RBC. Tidak dibedakan dengan pasien yang bayar, tidak seperti cerita yang menggunakan Jamkesmas), Sumardi menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. 31 Agustus 2007 jam 2 siang, anak keempat Sumardi lahir dengan berat 2 kilogram. Jatnika, bayi itu diberi nama. Setelah sempat dirawat selama satu minggu, akhirnya jatnika dan Rosi dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Ikhtiar Sumardi memang bulat. Saat mengantar istri dan menyimpan sepedanya di RBC, ia bahkan sempat berjalan kaki dari RS Sariningsih ke RBC karena tak punya ongkos.

Kondisi Jatnika kurang sehat karena kekurangan gizi. Bila badannya panas, tak jarang keluar nanah dari telinganya. Sumardi kembali bersyukur karena di RBC anaknya mendapat pengobatan, imunisasi lengkap, hingga istrinya memasang KB. Tepat setahun setelah kelahiran Jatnika, keanggotaannya di RBC sudah habis. Tapi tak ditinggal begitu saja, ia disarankan untuk membuat Jamkesmas dan membawa Jatnika rutin ke Posyandu dan Puskesmas. Sumardi merasa diperhatikan dan ditangani dengan sangat baik.

Kini, dua tahun sudah kelahiran anaknya berlalu, kondisi Jatnika memang masih naik turun. Kesehatannya belum stabil, tapi ia rutin dibawa ke Posyandu dan Puskesmas. Kini Sumardi sudah kembali bekerja, masih sebagai security namun di perusahaan yang berbeda. Dengan gaji sebatas UMR kabupaten ia berjuang menghidupi dan menyekolahkan keempat anaknya. Yang terbesar sudah lulus SMP. Sumardi bertekad untuk mendidik anaknya sebaik mungkin, terutama dari segi agama.

Ketika ditanya tentang harapannya pada RBC, Sumardi menjawab mantap. “ Mugia RBC tiasa langkung maju, sing seeur rizkina, nambih donaturna. Hoyongnamah langkung caket, RBC tiasa langkung seeur. Aya di tiap daerah, nyaketan masarakat” (Semoga RBC bisa tambah maju, banyak rizkinya, bertambah donaturnya. Inginnya bisa lebih dekat. RBC bisa bertambah banyak, ada di setiap daerah, mendekati masyarakat).

Di rumah semi tembok berukuran 5 x 4 meter milik Sumardi tergantung kaligrafi hitam putih bertuliskan: “Ingatlah Kepada Allah, Saksi dirimu yang Tak Bisa Bohong”. Kaligrafi itu seperti mencerminkan semangat Sumardi, bahwa Allah tidak akan memberi cobaan melampaui kemampuan hambaNya. Tugas setiap hamba hanya berikhtiar. Sekeras usahanya untuk merengkuh pedal sepedanya dengan penuh peluh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s