Senyum Tiga Buah Hati Mang Ayud

Cahaya matahari menerobos jendela ruangan berukuran 7×5 m. Didalamnya sekitar sepuluh orang tidur berjajar. Ruangan itu adalah bagian dari rumah singgah milik Yayasan Celah Bibir dan Langit-langit (Cleft Centre) untuk menampung pasien yang menjalani operasi bibir sumbing dan langit-langit. Tanggal 25 Mei 2009 lalu, atas kerjasama Cleft Centre, Dompet Dhuafa Bandung dan Yayasan Arafah, berhasil diberangkatkan delapan orang pasien untuk mengikuti operasi tersebut.

Diantara pasien yang menjadi peserta operasi, terdapat satu keluarga yang berasal dari Kampung Mekargalih RT 11 RW 05 Desa Sawit Kecamatan Darangdan Kabupaten Purwakarta. Dapat dibilang satu keluarga ini hampir hijrah ke Bandung, karena lebih dari setengah anggota keluarga tersebut harus datang dan tinggal di Bandung untuk kurang lebih selama satu bulan. Merekalah keluarga Mang Ayud.

Bapak Junaedi yang biasa dipanggil Mang Ayud adalah kepala keluarga dari seorang istri dan 5 orang anak. Diantara 5 orang anak yang dicintainya, ada tiga anak yang lahir dengan kondisi bibir sumbing, yaitu Yunus, 9 tahun; Wahyudin, 6 tahun; dan Siti Sobariyah yang baru berusia 11 bulan.

Sang istri, Titin Wartini, sebenarnya sangat sedih setiap mengetahui anaknya lahir dengan kondisi bibir sumbing. Namun ia hanya bisa pasrah. Kelahiran kelima anaknya selalu dilakukan di rumah dengan bantuan paraji bernama Ibu Kemsih. Hal itu demi menghemat biaya melahirkan. Apabila dilakukan di bidan, tentu dua ratus hingga empat ratus ribu rupiah harus tersedia, tapi dengan bantuan paraji dan dilakukan di rumah, ia cukup menyediakan biaya empat puluh ribu rupiah untuk paraji, sisanya perlengkapan yang bisa disediakan sendiri seadanya. Keturunan bibir sumbing memang ada dari keluarga ini, kebetulan ayah mang Ayud terlahir dalam keadaan bibir sumbing.

Sebetulnya bukan tidak berusaha, namun keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini tidak sanggup apabila harus membawa anak-anaknya ke Rumah Sakit untuk operasi. Untuk makan saja, keluarga ini hanya mengkonsumsi kangkung atau gorengan. Apabila ada penghasilan lebih, baru bisa membeli telur. Bahkan jika tak ada yang bisa dihidangkan, ibu titin biasa memasak nasi dengan cabe dan garam, itu saja. Jangan tanyakan perbaikan gizi pada keluarga ini,  anak-anaknya tidak dibiasakan minum susu. ”Susu harganya mahal, yang penting bisa makan nasi,” ujar ibu Titin polos. Kalaupun anaknya meminta, dan kebetulan ia ada uang lebih, ia membelikan susu sachet seharga seribu rupiah. ”Ayeuna mah barudak teu sarukaeun” (Sekarang, anak-anak tidak suka susu), tambah ibu Titin. Sungguh sebuah pernyataan yang  ironis.

Mang Ayud bekerja sebagai buruh pengambil kayu bakar. Pendapatan lelaki berusia 41 tahun ini paling besar lima belas ribu sehari. Kekurangan ini coba diatasi istrinya dengan menjadi buruh cuci berpenghasilan lima belas ribu seminggu. Di rumah panggung yang berdinding bilik berukuran 4×6 m itu, 7 anggota keluarga mang Ayud tinggal. Rumah ini hanya memiliki satu kamar, cukup padat dan sumpek.

Saat mendengar informasi operasi bibir sumbing massal dari yayasan Arafah, ia tidak langsung gembira. Pasalnya ia pernah ditipu saat ada yang pernah menawarkan untuk operasi serupa di Bandung. Empat puluh ribu rupiah berpindah tangan ke orang bernama Arip, namun setelahnya tak ada kabar berita. Tentu keluarga ini kecewa, pasalnya empat puluh ribu itu diperoleh bukan dengan  mudah.

Pernah pula ia mendaftar operasi bibir sumbing massal yang diadakan salah satu televisi swasta, namun Mang Ayud urung berangkat. Hal ini karena ketiadaan biaya transportasi dan bekal biaya makan yang harus dibawanya selama proses operasi. Belum lagi apabila operasi ketiga anaknya dilakukan satu per satu, sedangkan satu pasien dapat memakan waktu 10 hingga 15 hari. Bandung bukan kota yang sering dikunjungi Mang Ayud, keluarganya tidak biasa bepergian dengan kendaraan, muntah dikendaraan menjadi hal lumrah bila bepergian dengan mobil. ” Abdi mah teu gaduh artos, teu terang jalan” (Saya tidak punya uang dan tidak tahu jalan) Mang Ayud menambahkan.

Wajah Mang Ayud berubah gembira, mengetahui bahwa Dompet Dhuafa Bandung akan membantu biaya hidupnya selama di Bandung, pun biaya transportasi. Apalagi operasi  yang dilakukan Cleft Centre dilakukan hampir bersamaan, sehingga total proses memakan waktu sekitar 20 hari untuk ketiga buah hati mang Ayud. Ia juga berterimakasih atas pendampingan yang dilakukan yayasan Arafah, dan bantuan masyarakat sekitar untuk dua anak yang ditinggalkan, yaitu Tita, 12 tahun; dan Nurhaeni, 2 tahun yang ditinggal bersama sang nenek.  Masyarakat berperan aktif, mengumpulkan dana atau makanan untuk keluarga yang ditinggalkan. Maklum saja, selama di Bandung otomatis tidak ada yang menjadi sumber nafkah keluarga.

Saat menghadapi operasi, ibu titin tegang dan takut. Takut apabila operasi tidak berjalan lancar. Ketiga buah hatinya sendiri tidak terlihat gentar, bahkan Yunus, mengaku tidak takut dan senang bisa segera sembuh dan akan seperti teman-temannya. Saat akan difoto, tanpa malu-malu Yunus menyunggingkan senyumnya dan meletakkan dua tangannya di pinggang, bergaya katanya. Yunus sendiri kini bercita-cita menjadi dokter, dan ingin bisa membantu bapaknya. Alhamdulillah operasi yang berlangsung di dua rumah sakit, yaitu RS Hasan Sadikin dan RS Borromeus dapat berjalan lancar.

Mang Ayud sering termenung, tak ada yang tahu pasti apa yang dipikirkannya. Sesaat kemudian senyumnya mengembang, ia melihat senyuman termanis yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Senyum tiga buah hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s