Selembar Inspirasi Taufik

Wajah Opik tersenyum bahagia. Di tangannya, selembar surat kabar yang memuat sebuah artikel pendidikan memuat namanya. Puluhan artikel sudah ia tulis, seluruhnya berisikan ide, pengalaman, maupun ilmu baru yang ia dapat, yang pasti seluruhnya tentang pendidikan. Sebaris syukur terucap di bibirnya, semangat untuk terus berkarya menggema di dada.

Taufik Barjah, lelaki kelahiran 20 Juni 1976 memang adalah seorang guru yang sudah mengabdi selama lebih dari tujuh tahun. Beristrikan seorang yang juga guru, ia menapaki hidup dengan penuh prestasi, tanpa memasalahkan statusnya yang masih guru honorer dan pendapatannya yang terbilang kurang memadai. Kini, taufik tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama istri dan seorang anak.

Awalnya taufik remaja bercita-cita menjadi hakim. Bayangannya tentang kebijaksanaan seorang hakim membuatnya selalu tertegun kagum. Ini pula yang mendorongnya melanjutkan pendidikan ke fakultas syariah IAIN Sunan Gunung Jati Bandung. Bukan tanpa kendala, biaya kuliahnya pun diperoleh dengan berbagai usaha seperti berdagang dan bantuan dari banyak pihak. Setelah menyelesaikan studinya tahun 2000, ia banyak berkecimpung di organisasi hingga akhirnya mendapat tawaran mengajar. Setelah itu, ketertarikannya pada dunia pendidikan tak tertahankan lagi.

Inspirasi taufik bermuara pada seorang guru di masa remajanya. Seorang ustadz berwibawa bernama Muhammadiyah Wahid. Enam tahun Taufik remaja menimba ilmu dari sang ustadz yang berprofesi sebagai seorang hakim di PTA (Pengadilan Tinggi Agama). Hal itu pulalah kiranya yang menginspirasi taufik remaja untuk menjadi hakim. Beragam ilmu diajarkan sang ustadz pada taufik remaja, tidak hanya ilmu agama, tapi juga keterampilan berorganisasi dan berbagai nasehat hidup.

Kekaguman Taufik akan sang ustadz sangat membekas. Selembar foto sang ustadz bahkan selalu dibawa dalam dompetnya. Foto itu adalah selembar inspirasi bagi Taufik. Memandang foto sang ustadz seolah menjadi cambuk bagi dirinya untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik. Sang ustadz pernah menyarankan agar dirinya mengambil jurusan tarbiyah dan menjadi seorang guru. Walaupun saran gurunya itu tidak diikuti, tapi ternyata harapan sang ustadz agar taufik menjadi guru telah terwujud.

Pada akhir 2008, taufik mengikuti sebuah event yang diselenggarakan Dompet Dhuafa Bandung. Event bertajuk “Seribu Guru, sejuta Inspirasi” tersebut dihadiri oleh seribu guru dari Jawa Barat dan menghadirkan pembicara-pembicara yang menggugah semangat dan memunculkan motivasi. Taufik bersyukur, setelahnya ia terseleksi dan lulus menjadi satu dari 50 anggota komunitas myteacher angkatan pertama. Artinya, ia akan bertemu banyak rekan baru, mendapatkan banyak ilmu, upgrading, penugasan, bahkan insentif atas prestasi yang diraih.

Myteacher Dompet Dhuafa Bandung merupakan program upgrading guru yang dikhususkan bagi guru bantu, honorer, dan relawan yang lulus seleksi. Dengan program ini diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan kaum pendidik, diantaranya kesejahteraan, peningkatan teknik dan metode pengajaran, serta wawasan ilmu pengetahuan. Setiap angkatan akan dibina selama satu tahun. Selain pelatihan berkala, disediakan reward bagi prestasi yang diraih yang disebut ”insentif by prestasi”.

Aktivitas menulis media pun adalah hal baru bagi Taufik. Bergabung dengan komunitas myteacher membuatnya tergugah untuk mulai menulis. Menulis media adalah salah satu point dalam “insentif by prestasi” program ini. ” Sejak bergabung dengan myteacher, saya jadi termotivasi untuk menambah ilmu dan mulai menulis di media”, Taufik menambahkan. Bukan hanya melatih skill menulis dan membagi ilmu, menulis media juga memberi tambahan penghasilan yang cukup lumayan. Beruntung pula, saat awal menulis artikel, seorang temannya membantunya meng-edit tulisan.

Setahun sudah Taufik bergabung dengan myteacher. Manfaatnya terasa benar bagi Taufik dan rekan-rekannya. Untuk aplikasi skill dan pengetahuan para guru ini, di akhir masa pembinaannya mereka diwajibkan membuat training sejenis kepada guru-guru lainnya (teacher for teacher). Myteacher telah melejitkan potensi masing-masing anggotanya. Kini, anggotanya ada yang menjadi penulis media, aktivis masyarakat, bahkan banyak yang telah siap menjadi trainer.

Bagi seorang guru, bagaimanapun mengajar adalah panggilan jiwa. Mendidik sepenuh hati dan menjadi inspirasi bagi anak didik adalah prestasi. Termasuk bagi Taufik, bergabung dengan myteacher telah banyak memperbaiki metode pengajarannya. Taufik juga berharap rekan seprofesi lainnya dapat merasakan manfaat seperti yang ia rasakan. Tentu saja demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Perjuangan Taufik masih panjang. Pun perjuangan seluruh guru di Indonesia –termasuk guru honorer. Harapan akan peningkatan kualitas pengajaran yang diikuti pemenuhan kesejahteraan yang seimbang akan  masih menjadi agenda besar pemimpin bangsa ini. Sejalan dengan itu, seperti Taufik, para guru akan terus memberikan dedikasi terbaiknya, dan terus menjadi inspirasi. Seperti selembar inspirasi Taufik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s