Seberkas Cahaya untuk Nia

Selasa, 28 April 2009 adalah hari bersejarah dalam hidup Nia. Bagaimana tidak, hari ini akan mengakhiri dunianya yang buram selama kurang lebih tujuh tahun. Orangtua Niawati sendiri baru menyadari anaknya memiliki masalah penglihatan saat anaknya berusia sekitar enam tahun. Seringkali saat bermain dengan temannya ia terjatuh atau menabrak temannya. Sebenarnya keburaman matanya diduga sudah muncul di usia sekitar empat tahun, namun tak pernah diperiksakan ke dokter. Akhirnya rencana untuk masuk kelas satu sekolah dasar pun kandas karena Nia sama sekali tak dapat melihat huruf.

Niat kuat sang Ayah, Kasmita, kemudian membawa Nia jauh pergi ke Bandung. Tempat yang baru pertama kali didatangi Kasmita. Jangankan ke Bandung, ke kota terdekat dari rumahnya saja, yaitu pasar Plered, tidak sampai sekali sebulan ia sambangi. Ia mendengar informasi dari seorang PSM (Pekerja Sosial Masyarakat) mengenai operasi katarak massal yang diadakan BMM Telkom, Klinik Netra dan Dompet Dhuafa Bandung.

Hasil screening katarak yang dilakukan dokter mata dari klinik Netra Bandung menyatakan bahwa Nia tidak dapat dioperasi secara massal. Mata Nia diperiksa secara intensif, lalu dilakukan pemeriksaan umum menjelang operasi. Nia sempat beberapa kali muntah di tempat pemeriksaan karena tidak kuat berada di ruangan ber-AC. Tapi Alhamdulillah, saat jadwal operasi telah tiba, kondisi Nia cukup fit untuk menjalani operasi, walaupun wajahnya terlihat sedikit tegang.

Saat harus menandatangani surat pernyataan kesediaan operasi, Kasmita terlihat bingung, begitu pula saat diminta menyebutkan alamatnya. Ia hanya bisa menyerahkan KTPnya. Surat pernyataan itu tak dibaca, dan Kasmita meminta cap jempol saja karena tak mampu menorehkan tandatangan. Sepertinya Kasmita juga kurang dapat membaca, meskipun ia pernah mengenyam pendidikan dasar walaupun tidak tamat.

Akhirnya Nia dapat keluar ruangan setelah sekitar tiga jam berada di ruang operasi. Operasinya sendiri hanya berlangsung sekitar setengah jam, namun karena menggunakan anastesi umum, pemulihan Nia memakan waktu cukup lama.

Keesokan harinya penutup mata Nia dilepas, mata dibersihkan, lalu diuji sejauh mana perbaikan penglihatan telah diperolehnya. Nia adalah anak yang sangat pendiam, bahkan terlihat rendah diri dengan orang-orang di sekitarnya. Nia tak dapat membaca huruf, namun ia dapat membaca angka hingga angka lima. Saat tak bisa menjawab pertanyaan, ia hanya menunduk memandangi kuku jari tangannya. Dokter memakluminya karena Nia belum pernah mengenyam bangku sekolah. Saat di tes dengan gambar, barulah diketahui bahwa kemampuan melihat Nia sudah mengalami peningkatan pesat. Bahkan ia dapat berjalan keluar ruangan tanpa digandeng lagi. Rupanya dunia sudah terlihat jelas di matanya. Alhamdulillah, kalimat itu sontak terucap dari kami yang berada di ruangan. Kasmita bahkan menitikkan air mata. Hatur nuhun, ucap Kasmita berkali-kali. Betapa tidak, anak kelimanya ini telah terhindar dari kebutaan.

Pasca operasi, tim Dompet Dhuafa mengantarkan Nia dan ayahnya pulang. Rumahnya beralamat di Kampung Cibeurih RT 06 RW 03 Desa Warung jeruk Kecamatan Tegal Waru, Kabupaten Purwakarta. Perjalanan menghabiskan waktu hampir empat jam dari Bandung. Kasmita sang ayah, ternyata memang jarang sekali bepergian, sehingga ia sama sekali tak hapal jalan yang dilaluinya. Akhirnya setelah berkendara sekitar satu jam dari bendungan Cirata, kami sampai di tempat tinggal keluarga Kasmita.

Kondisi tempat tinggal keluarga ini berada di pinggir sawah, secara umum tidak memenuhi standar kesehatan. Rumah berdampingan dan berhadapan dengan kandang sapi dan domba. Kakus yang berada di luar rumah pun tidak memiliki saluran pembuangan, sehingga kondisinya becek. Rumah panggung berdinding bilik itu berukuran 3×4 m2, dengan dapur berbahan bakar kayu bakar yang asapnya memenuhi ruangan rumah. Kondisi rumah tidak sehat. Tak heran penghuninya bergantian jatuh sakit, apalagi pemenuhan gizi keluarga sangat kurang.

Kasmita adalah seorang ayah dari delapan orang anak yang masing-masing bernama Kece, Inen, Popon, Iwan, Niawati, Lia, Tia, dan Santi. Sehari-hari ia berprofesi sebagai buruh ternak yang memperoleh pendapatan dengan sistem gaduh. Dengan sistem ini, pemilik sapi menitipkan sepasang sapi untuk dipelihara, setelah setahun biasanya sapi beranak. Anak sapi itulah yang dibagi antara pemilik sapi dan buruh ternak dengan perbandingan 50:50. Sekitar satu juta dua ratus akan diperolehnya sekali setiap setahun enam bulan. Sungguh tidak sebanding dengan jerih payah mencari rumput dan membersihkan kandang yang dilakukan setiap hari. Kadang menunggu saat pembagian tersebut, hutangnya sudah bertumpuk di warung dan tetangga kanan-kiri. Untuk menambah penghasilan, istrinya, Enen bekerja di pabrik genteng sebagai penjemur genteng dengan penghasilan lima ribu sehari. Dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan ini, tidak heran Kasmita hanya mampu menyekolahkan semua anaknya hingga kelas tiga. Setelah sekolah mulai digratiskan pemerintah, baru satu anaknya yang mencapai kelas empat SD.

Kini, kebahagiaan tampak dari wajah Nia. Harapan ayahnya cukup sederhana, ” Nia tiasa sakola sareng belajar ngaos (Nia bisa sekolah dan belajar mengaji)”. Nia memandang kondisi sekitarnya, tiap-tiap wajah dicermatinya satu persatu. Nia memang diam, tapi ia terlihat antusias dengan segala hal disekelilingnya sekarang. Kasmita memandang putrinya dengan senyum. ” Hatur nuhun, hatur nuhun ka sadayana (Terima kasih, terima kasih semuanya)”, Kasmita katakan berulang-ulang.

Niawati adalah satu diantara banyak pasien yang memperoleh bantuan operasi katarak massal yang secara insidental dilakukan Dompet Dhuafa bekerjasama dengan pihak lain, yang kali ini adalah BMM Telkom. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat menekan jumlah kebutaan akibat katarak yang masih tinggi di Jawa Barat, terutama katarak pada anak-anak. Sehingga harapan seberkas cahaya ini bukan hanya untuk Nia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s