Pesan Linda,"Cobalah untuk Mandiri"

Sore itu, seorang perempuan berkerudung tengah duduk di depan etalase kaca kecil tepat di depan pintu masuk GOR Pajajaran, Bandung. Sejumlah makanan kecil, mie instant, rokok, dan minuman ringan berada di dalam etalase kaca yang bertuliskan dilarang nganjuk. Perempuan itu tersenyum ramah menyambut kami, tanpa beranjak dari kursinya ia memperkenalkan teman-temannya yang tergabung dalam BPOC (Badan Pembina Olahraga Cacat) Jawa Barat yang tengah berkumpul tidak jauh dari tempatnya duduk..

Namanya Linda Indriani Rusyamah. Perempuan asli Bandung berusia 47 tahun ini terlihat bugar dan lebih muda dari usia sebenarnya. Sepasang tongkat penyangga tersandar di kursinya. Ia terlahir tanpa tempurung lutut yang membuat kedua kakinya lebih pendek. Namun dibalik keterbatasan fisiknya, banyak prestasi telah diraih, khususnya di dua cabang olahraga, yaitu kursi roda balap dan angkat berat.

Linda bercerita bahwa ia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Hanya ia yang lahir dengan keterbatasan fisik. Orangtua terutama ibunya sangat mengkhawatirkan dirinya, hingga ia tidak berani mandiri. Sejak kecil, menjalani pendidikan SD dan SMP di sekolah umum selalu dengan bantuan orangtua yang menggendongnya, ia terbiasa naik becak ke sekolah. Selepas SMP, karena tak mungkin digendong dan kesulitan naik angkutan umum, ia tak melanjutkan ke SMA.

Tak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA tak membuat Linda patah semangat. Suatu ketika ia membaca iklan YPAC (Yayasan Pendidikan Anak Cacat) di sebuah surat kabar. Ia memberanikan diri untuk menelpon, lalu datang untuk bergabung di organisasi Bakti Nurani. Di organisasi inilah ia bertemu dengan teman-temannya sesama penyandang cacat, dan saling memberikan dukungan. Kepercayaan dirinya mulai bangkit, ia aktif dalam berbagai kegiatan, bahkan berani naik angkutan kota. Di lembaga ini pula ia bertemu dengan cinta pertamanya, Yus Rusyamah yang mengidap cerebral palsy (ganguan/kelainan pada jaringan otak).

Tak lama bergabung dengan organisasi ini, Linda kemudian dikirim ke Solo untuk dilatih keterampilan. ”Awalnya mami– begitu ia memanggil ibunya, tidak memberi izin, namun karena melihat saya yang bersemangat sekali, mami akhirnya mengizinkan juga,” ujar Linda mengingat masa lalu. Di Solo itulah ia menjalani pelatihan menjahit selama setahun, disana ia digembleng untuk mandiri. ”Bahkan, baru disana saya mencuci baju sendiri”.

Semangatnya yang tinggi membawanya pula mengikuti tes seleksi atlet penyandang cacat. Dengan latihan intensif, pada PORDA Tahun 2003 di Indramayu ia meraih dua perak, dan tahun 2006 di Karawang ia menyabet emas dan perak dalam cabang kursi roda balap. Kini ia tengah dalam latihan intensif untuk mengikuti PORDA tahun 2010 dalam cabang angkat berat. Setiap hari ia latihan dari jam satu hingga jam tiga sore. Berat beban yang diangkat total adalah 60 kilogram.

Di tengah perbincangan, seorang lelaki berjalan tertatih menghampiri kami. Linda tersenyum memperkenalkan suaminya, ”Ini suami saya, Yus Rusyamah. Kami menikah tahun 2003”. Rupanya setelah pertemuan tahun 1987 di YPAC dan terpisah puluhan tahun, Linda bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Sebelumnya sang suami berprofesi sebagai atlet tolak peluru, namun karena kondisi fisik yang tak lagi memungkinkan  kini ia menekuni berprofesi sebagai pemijat yang berspesialisasi pada pijat tiongkok. Walau belum banyak, setiap minggu ada saja yang minta dipijat.

Menyadari penghasilannya yang kurang menentu dari olahraga, sudah tiga tahun terakhir Linda mencoba usaha dagang bersama suaminya. Penghasilan dari olahraga yang lumayan tapi tidak rutin ia pakai untuk melunasi kontrakan kamar dan modal berjualan. Makan sehari-hari diambilnya dari hasil berdagang, walaupun memang masih minim.

Ia bersyukur pula, bersama beberapa teman penyandang cacat dari HWPCI (Himpunan Wanita Penyandang Cacat) ia memperoleh pinjaman modal dari Dompet Dhuafa Bandung. Walaupun hasil dagangannya tak seberapa, ia bersyukur masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari ia dan suaminya.

Manis dan pahit dalam hidup telah ia rasakan. Cobaan berat ia rasakan setelah dua kali keguguran dan kemudian tahun 2004 dokter memutuskan rahimnya harus diangkat. Semangat kembali ia rasakan karena suami menerima dengan lapang dada dan terus menyemangatinya. Pembawaan Linda memang periang, di tengah aktivitasnya ia masih suka berkunjung ke rumah orangtuanya di Buah Batu dengan menggunakan kursi roda. Ia mengaku kesulitan untuk naik angkutan umum, lebih nyaman naik kursi roda walaupun kondisi jalan dan trotoar belum memudahkan penyandang cacat. Kadang ia berlomba dengan suaminya yang berangkat dengan angkutan kota. ”Istri saya selalu sampai lebih dulu,” kata suaminya yang diikuti tawa keduanya.

Kini, kekhawatiran kedua orangtua padanya, telah terganti dengan kebanggaan. ”Mami sekarang angkat jempol pada saya karena mampu hidup mandiri. Bahkan, mami sering mengambil semangat saya sebagai contoh untuk adik-adik saya,” ujar Linda bersemangat. Ia berharap di masa depan hidupnya akan berubah, lebih mapan, dan usahanya dapat lebih maju. Ia juga berpesan pada penyandang cacat lainnya, ” Jangan sampai patah semangat, dan jangan bergantung pada orang lain. Cobalah untuk mandiri”.

Semangat Linda mungkin akan membuat sebagian dari kita malu, malu akan semangatnya menghadapi masa depan, meski banyak kepahitan telah ia rasakan.

Saat salah satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain terbuka. Hanya seringkali kita terpaku begitu lama pada pintu yang tertutup sehingga tak melihat yang telah terbuka untuk kita.

(Helen Keller)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s