Inspirasi Ruiyat

Anak kelas enam SD itu menatap seorang guru agama di hadapannya. Begitu berwibawa dan mampu menyampaikan pelajaran agama dengan cara yang sistematis. Pak Tohir, begitu nama guru itu, begitu menginspirasi dan memompa semangat sang anak sehingga ia selalu menjadi juara kelas dan kemudian bercita-cita menjadi seorang guru agama.

Kisah itu selalu terbayang di benak Ruiyat, seorang guru yang hingga saat ini telah mengabdikan lebih dari 17 tahun hidupnya untuk mengajar. Guru Agama Islam seperti yang ia cita-citakan telah disandangnya, walaupun masih berstatus guru honorer.

Ruiyat dilahirkan di Cirebon, 18 Oktober 1970. Ia dibesarkan di keluarga petani. Selepas SD ia melanjutkan ke tsanawiyah, lalu ke PGA (Pendidikan Guru Agama). Lulus tahun 1990 dan langsung mengajar. Tahun 1996 ia mengikuti Program Transmigrasi Da’i Pembangunan dan dikirim untuk berda’wah ke Riau selama 3 tahun. Profesi itu ia jalani dengan penuh semangat, mengajar Agama Islam di tingkat SD dan SMP juga mengisi pengajian-pengajian meski hanya dengan mengantongi gaji seratus ribu per bulan.

Tekadnya untuk mencoba peruntungan membuatnya beralih profesi sepulang dari Riau. Ia menjajal sebagai pedagang. Topi dan pakaian anak menjadi pilihannya. Berdagang selama hampir dua tahun dilakoninya di Indramayu. Tempat yang sama dimana ia bertemu dengan Sumini, yang kemudian dipersuntingnya sebagai istri. Namun sayang, profesi barunya itu tak berumur lama, ia merugi kemudian gulung tikar.

Tahun 1999, Ruiyat dan keluarga hijrah ke Bandung. Kembali ke profesi yang ia cintai, yaitu guru agama. Kini, di sebuah rumah kontrakan berukuran 3 x 6 meter didekat rel kereta api, ia mendedikasikan dirinya untuk terus mengajar. Dengan sebuah mesin tik yang ia miliki, ia juga aktif membuat artikel. Dedikasi adalah kata yang tepat bagi pengabdiannya, karena tak jarang ia membuat model dan alat peraga pendukung pembelajaran yang biayanya berasal dari koceknya sendiri.

Kemajuan teknologi akhirnya membuatnya cukup tersisih. Mesin tik yang dulu sering digunakan untuk membuat artikel dan dikirim ke media kini tak relevan lagi. Dunia telah dijangkiti virus komputerisasi. Mesin tik yang masih terawat itu, kini masih disimpannya. Penghasilan tambahan dari menulis artikel tak diandalkan lagi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, selain guru agama ia mencoba pekerjaan lain, yaitu bekerja di pabrik karet sebagai operator.

Dua profesi dijalani secara bersamaan. Terbayangkan betapa ketatnya pembagian waktu setiap harinya. Hari Senin hingga Sabtu ia mengajar dari pukul 07.30 hingga pukul 2 siang. Bercengkrama dengan keluarga dan kemudian tidur ba’da maghrib hingga pukul 21.30. Setelah menunaikan shalat isya, dengan sepeda federal bekas yang ia beli seharga seratus ribu rupiah, iapun berangkat menuju pabrik karet untuk bekerja dan baru selesai pada pukul 7 pagi. Setelah itu, ia kembali bergegas untuk mengajar di sekolah. Sungguh bukan sebuah pengaturan waktu yang mudah.

Tim alhikmah yang mewawancarai menjadi tidak enak hati mendengar ketatnya alokasi waktu pak guru ini dan segera meminta maaf sudah mengganggu jam istirahatnya. Namun pak Ruiyat menjawab tenang, ”Ah, sudah biasa. Kalau dibilang kurang tidur, saya sudah kurang tidur hampir sepuluh tahun”,  jawabnya sambil tersenyum.

Sosoknya yang mungil dan pembawaannya yang tenang tak berarti membuatnya tak tahu dengan hingar bingar di dunia pendidikan dan tuntutan dari rekan-rekannya sesama guru honorer. Ia bahkan tergabung dalam FKGH (Forum Komunikasi Guru Honorer) yang melakukan advokasi pada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk segera mengangkat guru honorer menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Guru honorer, dengan tugas yang bahkan sama beratnya dengan guru PNS, masih mengalami banyak diskriminasi. Bahkan pendapatan yang sangat tidak memadai. Gaji guru honorer di kota Bandung saat ini berkisar 200 – 400 ribu rupiah, hal lebih tragis lagi dialami guru honorer di daerah.

Untuk peningkatan kompetensi Ruiyat punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Ia bahkan pernah mendaftar di sebuah Sekolah Tinggi Agama Islam dan kuliah selama dua bulan. Namun karena tarikan tuntutan kebutuhan keluarga, kuliahpun terhenti. ”Saya hanya mampu sampai daftarnya saja”, jawabnya menerawang. Penghasilan dari dua profesinya masih bisa dikatakan minim, sekitar 900 ribuan saja sebulan. Dengan penghasilan itu ia harus membayar kontrakan rumah, tanggungan dua anak yang sekolah di tingkat SMP dan seorang balita. Ia masih sering keluar pada hari Minggu, menawarkan kaligrafi nama yang dibuatnya langsung di tempat. Lapangan Tegalega adalah salah satu lokasi tujuannya. Kebetulan ia memang punya hobi membuat kaligrafi.

Pak Ruiyat adalah seorang guru sederhana yang selalu berharap menjadi guru yang menginspirasi muridnya. Ia adalah satu dari 50 guru honorer terpilih di kota Bandung untuk menjadi guru binaan Dompet Dhuafa Bandung dalam program myteacher. Program ini dengan metode pelatihan dan pendampingan selama satu tahun berupaya untuk membangun para guru honorer dari segi kemampuan mengajar, penguasaan ilmu, dan peningkatan kesejahteraan. Pelatihan tahap 1 baru selesai digelar. ”Setelah pelatihan saya lebih memahami gaya belajar setiap anak, dan ilmu yang saya peroleh sudah mulai saya terapkan pada anak didik saya. Program ini memberi semangat baru dan memotivasi saya untuk lebih giat”, Jawab Pak Ruiyat ketika ditanyai keterlibatannya dalam program ini.

Di tengah wawancara kami, Ade, anak kedua pak Ruiyat pulang dari sekolah. Lalu, Pak Ruiyat pun bercerita, anak keduanya ini selalu juara kelas. Gadis yang kini duduk di kelas satu di sebuah SMP negeri itupun tersenyum. Saat ditanya cita-cita, ia pun menjawab,” Ingin menjadi guru, seperti bapak”. Pak Ruiyat tersenyum. Sebenarnya tanpa ia maksudkanpun hidupnya telah memberi banyak inspirasi, seorang guru sederhana bak Oemar Bakri yang pergi mengajar dengan sepeda, ia telah membagi banyak kebaikan dan inspirasi pada banyak orang. Guruku, Inspirasiku…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s