Arul pun Kembali Tersenyum

Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah syurga

Bersyukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia..selamanya.

– Nidji –

Anak berusia 13 tahun itu tersenyum saat diminta memperlihatkan bagian tongkat penyangga kakinya yang rusak. Anak pertama dari tiga bersaudara itu memperlihatkan bantalan karet tongkat penyangga yang telah habis dan menyisakan alumunium yang penuh goresan. Tanpa bantalan karet, tongkatnya yang sudah dua tahun dipakai itu terasa licin apalagi di kala hujan, padahal ia pergunakan setiap hari untuk sekolah dan ke masjid. Di satu hari di pertengahan April lalu, ia bahkan rela izin dari sekolahnya di SMP Muhammadiyah 10 Ujung Berung untuk datang ke kantor Dompet Dhuafa mengajukan perbaikan tongkat.

Air mukanya berubah saat ditanya kembali mengenai kisah yang mengawali dirinya harus menggunakan tongkat penyangga. Anak bernama lengkap Arul Sofyan itu menoleh pada ibundanya, Nina yang menemaninya datang ke kantor Dompet Dhuafa. Nina berulang kali meneteskan air mata saat menceritakan kisah Arul.

Ceritanya dimulai dari Nina yang akan melahirkan. Setelah berjuang menahan sakit tiga hari tiga malam di bidan setempat, anak ketiganya tak kunjung lahir. Ia pun dirujuk ke RS Sariningsih untuk menjalani operasi caesar. Ayahnya yang buruh harian lepas saat itu sedang ada pekerjaan, sehingga anak kedua dititipkan ke rumah neneknya di pameungpeuk Garut. Arul sebagai anak tertua yang saat itu duduk di kelas lima sekolah dasar dianggap cukup besar untuk tinggal di rumah.

Usai operasi, masalah biaya menghadang Nina saat akan keluar dari RS. Tagihan sebesar tujuh juta rupiah sangat besar ia rasakan. Melalui pinjaman dari seorang tetangga, setengah tagihan berhasil dibayar untuk sekedar membolehkannya dan bayinya pulang.

Tak lama setelahnya, Arul dan ayahnya berniat menjemput adiknya di pameungpeuk. Apa hendak dikata, di jalan raya Cikajang motornya mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga Arul dan ayahnya terlempar. Nahasnya, Arul terlempar ke tengah jalan raya dalam keadaan terlentang dan kaki kanannya terlindas truk yang melintas dari arah berlawanan.

Kondisi Arul sangat parah, ia dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung dan koma selama dua minggu, sedang sang ayah dirawat di RSUD Garut. Saat yang sama Nina harus kembali di rawat di RS Sariningsih karena mengalami pendarahan. “Tidak terbayangkan tiga anggota keluarga harus dirawat di tiga rumah sakit berbeda, sudah terbayang besarnya biaya yang harus kami tanggung”, Nina menghela nafas. Karena bingung akan biaya RS yang menggunung, Nina dan suaminya, Sofyan sepakat menjual rumah yang selama ini ditempati. Uang penjualan sebesar tujuh puluh juta digunakan untuk membayar tagihan rumah sakit. Apalagi Arul harus menjalani operasi pengambilan gumpalan darah di dadanya.

Saat Nina dan suaminya sudah pulih, Arul masih terbaring koma di RS. Hingga dokter memberi vonis bahwa Arul kemungkinan tidak akan bertahan. Nina selalu menangis mengingat peristiwa itu, ia mendekati telinga Arul dan membisikan, “Ieu, sanes sasaha, ieu ibu kandung nu ngalahirkeun Arul. Upami Arul tos teu kiat, ibu ridho. Namung upami Allah maparin yuswa, abdi nyuhunkeun disadarkeun ayeuna.” (Ini bukan siapa-siapa, ini ibu kandung yang melahirkan Arul. Kalau Arul sudah tidak kuat, Ibu ridho. Tapi Kalau Allah memberi Arul usia, saya mohon Arul disadarkan sekarang). Sekitar dua jam kemudian Arul menunjukkan tanda sadar, bahkan bicara, “Ibu, ieu dimana?”(Ibu, ini dimana?). Sang ibu langsung bersujud syukur atas anugrah yang Allah berikan.

Arul telah menjalani tiga kali operasi. Diantaranya adalah pemotongan tulang betisnya sebanyak 6 cm. Setelah tiga bulan menjalani rawat inap dan menghabiskan puluhan juta rupiah, baru Nina berhasil mengurus Askeskin (Asuransi Kesehatan Miskin), sehingga biaya selanjutnya ditanggung pemerintah. Di tengah kegalauannya, Nina memutuskan untuk memberikan anak ketiganya pada saudara tetangga yang membantu biaya persalinannya tanpa bermaksud menjual anaknya. Saat itu perhatian Nina sepenuhnya pada Arul yang dalam pengobatan intensif. Arul mengalami total empat kali operasi dan rawat inap setahun penuh. Belum lagi, ia harus menjalani rawat jalan. Masih lekat dalam ingatannya, satu persatu barang berharganya dilego demi membeli obat-obatan, bahkan lemari esnya dijual cepat seharga enam ratus ribu karena Arul membutuhkan transfusi darah.

Di tengah kesulitannya membeli obat yang tidak ditanggung Askeskin, ia teringat betul Dompet Dhuafa yang meringankan bebannya. ”Saya dibantu tebus resep hingga berkali-kali, bahkan makanan tambahan Arul seperti susu dan vitamin tulang. Saat Arul pulang dari RS, saya bahkan diberi sepasang tongkat, hingga Arul bisa kembali berjalan. Hingga kini, sudah dua tahun tongkat itu dipakai.”, Nina tersenyum, air matanya kembali terurai.

Sepulang dari rumah sakit, Arul sempat mengurung diri di rumah. Atas saran dari kepala sekolah tempat Arul bersekolah, Arul mengikuti Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US) dengan sebelumnya menjalani pelajaran tambahan selama seminggu. Alhamdulillah, Arul berhasil lulus dan mendaftar ke SMP. Saat itulah kepercayaan dirinya kembali pulih. Ia kembali sekolah dan bermain dengan temen-temannya.

Walaupun kini menumpang di rumah salah seorang kerabat dan tidak memiliki barang berharga apapun, Nina dan Sofyan bertekad untuk memulai kembali menata hidup demi kelanjutan hidup anak-anak mereka. Arul kini adalah Arul yang berbeda, selain periang, banyak teman, dan semangat belajar yang meningkat, Nina memperhatikan bahwa anaknya kini lebih tekun beribadah. Kesulitan naik angkot dan jalan yang licin saat hujan tak pernah menghambat Arul untuk pergi ke sekolah atau shalat jum’at. ”Kalau pulang bajunya sering kotor karena mengesot saat naik angkot atau terpeleset, Arul tetap tersenyum dan berkata banyak teman yang membantu,” Nina menatap mata Arul dalam-dalam, dan Arul pun kembali tersenyum.

Di tengah perjuangan keluarga ini bangkit dari musibah, satu teladan penting mereka tunjukan, yaitu senantiasa bersyukur. Satu hal yang sering terlupa dalam keseharian kita.

Satu pemikiran pada “Arul pun Kembali Tersenyum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s