Yati, Perempuan 36 Tahun itu..

Yati Suryati. Perempuan 36 tahun itu tampak kaget melihat kedatangan tim Dompet Dhuafa Bandung yang tiba-tiba di Desember 2008 lalu. Ia bergegas keluar rumah, menyambut kami, tanpa peduli gemericik hujan menyentuh pakaian yang membalut tubuhnya.

Dari luar, rumah permanen yang terletak di Kampung Cinangka RT. 01/ 02, Cikasungka, Cikandung, Kabupaten Bandung itu seperti kurang terurus. Sebagian genting rumah bergeser. Belum lagi gurat noda tanah merah yang menghias tembok kumal bangunan.

Saat masuk, kondisi di dalam rumah tidak jauh berbeda. Lantai rumah tanpa plafon itu.,dipenuhi guguran daun bambu yang memang tumbuh di belakangnya. Apabila hujan deras, air turut masuk ke dalam. Separuh langit-langit rumah dihalangi dengan plastik seadanya, untuk mengurangi volume air hujan yang datang.

Sebenarnya, pernah ada bantuan bilik dari pihak kelurahan setempat. Namun, satu hari, karena tak ada serupiahpun untuk makan, bilik itu akhirnya dijual untuk menyambung napas kehidupan.

Meski demikian, perempuan itu selalu terlihat tegar. Padahal, selain harus mengurus enam anaknya, sang Ibu pun tengah menderita sakit sejak lama. Kaki kanannya terlihat jauh lebih besar dibandingkan kaki kiri.

Waktu itu, baru tiga bulan sang Ibu melahirkan Yati. Seringkali demam tinggi ia rasakan Puncaknya, satu ketika, demam diiringi panas suhu badan yang cukup tinggi, menyerang saraf penglihatan, dan mengakibatkan pandangan kabur sampai akhirnya kehilangan penglihatan. Tanpa pengobatan yang memadai, hanya sekali saja periksa ke dokter, sang ibu pun menerima kenyataan untuk tidak dapat melihat lagi.

Sebenarnya hidup cukup pernah dirasakan keluarga ini. Namun, sang ayah yang bekerja sebagai Satpam di salah satu komplek sekitar bilangan Dipati Ukur Bandung ini meninggal delapan tahun silam. Penderitaannya kian bertambah saat suami tercinta pergi meninggalkan dengan alasan tak mampu bertanggungjawab secara ekonomi. Yati, sebagai seorang anak tunggal dan ibu dari enam anak, otomatis menjadi kepala, sekaligus pencari nafkah keluarga.

Tentu bukan perkara mudah menanggung enam orang anak dan seorang ibu. Satu per satu barang berharga di rumah dijual untuk makan. Hingga piring, sendok, dan pakaian pun jadi sasaran. Tak lama kemudian, karena tunggakan listrik lebih dari tiga bulan, sambungan listrik pun dicabut. Bahkan, sempat, kelaparan mendera keluarga ini. Makan nasi dengan garampun diperebutkan anak-anaknya. Belum lagi hutang yang menggunung dari sana-sini.

Namun, Yati tidak dapat terus berdiam diri, pasrah pada nasib. Ia mencoba berjualan kesana-kemari, tanpa modal. Mulai dari jambu air milik tetangganya, hingga berbagai jenis barang dagangan pernah ia jajakan.

Berkeliling ke berbagai instansi di Bandungpun ia lakoni. Bahkan, ia pernah mendatangi Gedung Sate, pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kali ini bukan berdagang, melainkan untuk memperjuangkan anaknya, Syifa agar dapat melanjutkan sekolah di SMP Negeri dengan jalur tidak mampu. Usahanya tidak sia-sia, anak tertuanya itu kini duduk di kelas 2 SMP kini dapat bersekolah bebas biaya dengan prestasi yang cukup baik.

Memandangi ke enam anaknya saat beraktifitas, pun ketika terlelap dalam tidur, menjadi pembangkit spirit yang cukup berarti bagi Yati. Kadang jam setengah lima pagi sudah mengejar kereta untuk berangkat ke Bandung untuk berjualan. Kereta Rel Diesel (KRD) bertarif seribu rupiah itu, menjadi alat transportasi utamanya.

Alhamdulillah, sedikit bantuan modal dari Dompet Dhuafa Bandung bisa dimanfaatkan untuk usaha, menyambung hari dia dan keluarga. Di tengah harga-harga yang kian melambung, Yati berusaha bertahan. Tanpa listrik di rumahnya, berburu minyak tanah yang kian langka harus dilakoni setiap hari. Harga minyak tanah saat ini berkisar Rp.7.000 – 9.000 per liternya. Ia membutuhkan minimal 1 liter per hari untuk menyalakan damar yang dibuat dari botol kaca bekas yang diberi sumbu.

Belum termasuk dua liter beras, plus sayur bayam atau kangkung harus dipersiapkan untuk makan sehari. Sesekali jika ada tambahan rezeki, 1-2 butir telur ayam Yati beli untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya, yang dalam masa pertumbuhan. Terlebih, 3 anaknya masih tergolong balita.

Untuk hiburan atau menambah pengetahuan tentang beragam hal anak-anaknya tak pernah berkesempatan menonton televisi. Selain tak memiliki TV dan sambungan listrik, Yati pun tidak mengizinkan anaknya menonton di rumah tetangganya. Ia menekankan pada anak-anaknya, ”Yang penting adalah mengaji dan sekolah!”

Sepulang mengaji Bada Isya, biasanya mereka sudah berkumpul di kamar untuk saling bercengkrama, minus penerangan. Hanya ada damar yang menyala di ruang tengah, teman belajar dua anaknya yang telah sekolah.

Anak-anak adalah harapan Yati. Ia mempunyai cita-cita untuk menyekolahkan empat putri dan dua putranya. Bahkan untuk putri tertuanya, ia berharap mampu sekolah tinggi dan menjadi seorang guru. Yati … Yati …

Tak terasa, air mata penulis menitik saat menata paragraf demi paragraf untuk merangkai kisah ini. Entah Anda. Tapi tetap, bersyukurlah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s