The economics of Miskin

Dalam Ekonomi Pembangunan, kemiskinan dibedakan menjadi berbagai jenis; kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan natural, kemiskinan kultural, dan kemiskinan struktural.

Dalam dunia nyata, jenis kemiskinan lebih banyak lagi. ada miskin kronis, miskin akut, pura-pura miskin, mumpung miskin, miskin pasrah, miskin tapi siap bangkit, miskin tapi punya harga diri, dan sebagainya. Hal ini karena bermacam sifat pula dalam menghadapi ketidakmampuan atau ketidakberdayaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Adapula yang disebut dhuafa, dhuafa berarti lemah. Dapat berarti memang lemah, ataupun dilemahkan. Bisa dilemahkan apa saja, bisa kondisi geografis, adat budaya, ataupun sistem negara. Dalam Islam disebutkan dalam alqur’an: mustahik, yaitu orang yang berhak menerima zakat, terbagi dalam 8 asnaf (golongan); fakir, miskin, gharimin, amil, ibnu sabil, fisabilillah, muallaf, hamba sahaya.

Dalam perjalanannya, beraktivitas di sebuah Lembaga Amil Zakat bernama Dompet Dhuafa Bandung, para amil (petugas zakat) menghadapi banyak tantangan, bagaimana membuat program yang tepat sasaran dan memberdayakan, berdaya yang dimaksud disini bukan hanya ekonomi, namun juga berdaya dalam bidang pendidikan, dan kesehatan. Maksudnya mereka mampu berjuang untuk mendapatkan haknya.

Duh serius banget sih..
Yang pasti ketika di Dompet Dhuafa, pos asnaf zakat yang paling banyak diminati (dalam arti : paling banyak dana yang disalurkan) adalah asnaf miskin. Kalau fakir berarti tidak punya sumber penghidupan, kalau miskin punya tapi tidak mencukupi hajat hidup. Sandang, pangan, papan, tapi tentu saja dalam taraf minimal.

Selama di Dompet Dhuafa, saya menangani LPM (Lembaga Pelayanan Masyarakat)yang sebelumnya bernama Layanan Mustahik. Sesuai namanya, setiap hari saya berinteraksi dengan mustahik secara langsung. Face to face. Saya banyak belajar. Belajar mendengarkan, belajar berempati, belajar menasehati, belajar menerima nasehat, belajar tentang Islam, belajar psikologis orang, bahkan, belajar bahasa sunda. Dengan rata-rata 15 orang sehari, dan bisa dua kali lipatnya di bulan Ramadhan, saya juga mulai menganalisa.

Ibu nomor satu, anak banyak, suami ga kerja, rumah ngontrak, jualan gorengan.
Ibu nomor dua, janda, anak banyak, rumah ngontrak, buruh cuci.
Ibu nomor tiga, janda, anak banyak, rumah ngontrak, kerja serabutan.
Ibu nomot empat, janda, anak banyak, rumah numpang, mantan TKW, harus cuci darah.

eh, fyi,statistik LPM menunjukkan lebih dari 50% pengaju bantuan adalah : wanita. Kalo analisis saya, ini bukan karena wanita suka meminta-minta, tapi karena wanita lebih struggle dan rela berkorban untuk anak-anaknya. Banyak keluarga tidak mampu yang diperparah dengan ayah/suami yang pergi meninggalkan keluarganya (bukan meninggal, tapi kabur)..Dasar lelaki tidak bertanggung jawab (peace).

Kembali ke kasus Ibu-ibu tadi.
Ibu satu mengajukan bantuan sewa rumah
Ibu dua mengajukan bantuan usaha
Ibu tiga mengajukan bantuan biaya sekolah
Ibu empat mengajukan bantuan pengobatan

Memang pengajuan ini mungkin didasari deadline yang berbeda, namun di satu sisi, dapat dianalisis tingkat kemandirian dan motivasi mustahik, mungkin dengan beberapa tambahan informasi (Seperti: dari empat ibu tadi, ada yang memberhentikan anaknya sekolah, membiarkan anaknya turun ke jalan, dll). Dari kasus seperti ini pula kita sadari, pentingnya advokasi (yang seringkali harus ditemenin).

Untuk kasus pendidikan (menemui pihak sekolah, bernegosiasi, kalo sekolah negeri meminta alokasi BOS, dll). Kendala : 1. kebanyakan mustahik itu takut, malu, dan minder bertemu pihak sekolah plus minimnya info ttg program pemerintah; 2. banyaknya anak dari golongan ini kurang berprestasi di sekolah, atau bahkan dianggap “nakal” oleh pihak sekolah.

Untuk kasus kesehatan, advokasi tentu penting untuk memperoleh akses pengobatan dengan Gakin atau Gakinda.Tapi terus terang, untuk kasus kesehatan biasanya langsung mempengaruhi tingkat kehidupannya (tidak bisa kerja, tidak bisa bayar kontrakan, tidak bisa kasih makan anak, tidak bisa sekolahin anak). Jadi, menangani masalah kesehatan ini memang paling berat. Moral behind the story: jangan sakit, jaga kesehatan, syukuri rahmat sehat.

Untuk usaha, seperti kata bapak Hendi Suhendi (yang sekarang jadi direktur dompet dhuafa jabar…temen gue tuh🙂 si mustahik tidak menjadi objek seperti pada kasus charity, tapi menjadi subjek. Jadi, dia penentu nasibnya sendiri.

Untuk yang terlilit hutang, ditinggal suami, ketipu usaha, waaah.. ini sih bagian mendengarkan curhat, memberi taushiyah kesabaran, tapi solusi : entar dulu ya…:(

Semoga Allah memberikan kecukupan rezeki dan kemudahan urusan bagi seluruh mustahik di seluruh dunia, Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s